SENANDIKA
Senandika 1:
Lelucon
Oleh Siti Haura Hawari
Aku
menutup pintu yang menghubungiku dengan manusia luar. Menghembuskan nafas lalu
termenung memikirkan lelucon yang telah dilontarkan. Aku berkata lirih, “apakah
lelucon itu terlalu lucu hingga mereka tertawa sekeras itu?”
Mungkin,
mereka memang tidak sengaja menertawakannya. Tertawa lalu melupakannya seperti
biasa. Padahal aku tahu, batinku terguncang hingga kata diam ingin sekali aku ucapkan.
Senyum tulus di wajahku membeku hingga rasanya seperti dipaksakan.
Ingin
sekali aku membalas lelucon itu. Berkata dengan nada serius, lalu dengan bentuk
wajah yang tidak tersenyum, seakan melepaskan topeng di hadapan makhluk sosial.
“Itu
tidak lucu, sungguh.”
Senandika 2:
Topeng
Oleh Siti Haura Hawari
Menatap
kerumunan, aku menyadari akan satu hal. Bahwa betapa pandainya manusia
berpura-pura. Berpura-pura bertingkah biasa tapi aslinya sengsara. Berpura-pura
menikmati percakapan padahal ingin keluar paling awal. Berpura-pura bertingkah
konyol saat batin sedang hampa dalam diam.
Mungkin
inilah yang mereka namai topeng. Bentuk topeng yang tidak pernah terlihat tapi
selalu menghiasi wajah. Seakan dia ada namun tidak terdeteksi oleh indra
manusia. Topeng yang tampaknya akan mulai dilepas saat sendirian.
Mungkin,
topeng bukanlah kata yang tepat. Aku menamai itu, “adaptasi sosial.”
Cerpen
Tawaku dan Luka Dalam
Diriku
Oleh Athifa Khairiyah
Namaku
Kala. Di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang paling ceria dan mudah tertawa.
Aku sering membuat suasana kelas menjadi ramai dengan candaan-candaanku.
Teman-temanku bahkan menganggap aku tidak pernah memiliki masalah dalam hidup.
Namun, kenyataannya tidak seperti yang mereka lihat.
Sejak
lama, aku memiliki impian untuk masuk ke sekolah favorit yang sangat
kuinginkan. Aku belajar dengan sungguh-sungguh setiap hari, mengurangi waktu
bermain, dan berusaha mendapatkan nilai terbaik. Aku benar-benar yakin bahwa
semua usahaku akan membuahkan hasil. Akan tetapi, saat hari pengumuman tiba,
namaku tidak tercantum dalam daftar siswa yang diterima. Saat itu, aku hanya
bisa menatap layar telepon genggamku dengan perasaan hampa. Rasanya sesak,
tetapi aku tidak mampu menangis.
Hal
yang paling menyakitkan adalah ketika melihat teman-temanku merayakan
keberhasilan mereka. Aku tetap tersenyum dan mengucapkan selamat kepada mereka,
meskipun di dalam hati aku merasa sangat kecewa. Sejak saat itu, aku mulai
sering menyalahkan diriku sendiri. Aku merasa tidak cukup pintar dan tidak
sebaik orang lain. Namun, aku tidak pernah menceritakan perasaanku kepada siapa
pun karena takut dianggap lemah.
Akhirnya,
aku memilih menyembunyikan semua rasa kecewa itu di balik tawa. Aku menjadi
lebih sering bercanda dan selalu berusaha terlihat bahagia. Semua orang
menganggap hidupku baik-baik saja, dan aku membiarkan mereka berpikir demikian.
Suatu
hari, guru meminta kami menulis satu kalimat tentang apa yang sebenarnya sedang
kami rasakan. Awalnya aku bingung harus menulis apa, tetapi tanpa sadar
tanganku menuliskan kalimat, “Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.” Aku
terdiam membaca tulisan itu karena untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa
selama ini aku hanya membohongi diriku sendiri.
Setelah pelajaran selesai, sahabatku yang bernama Nara menghampiriku. Ia berkata bahwa aku tidak harus selalu terlihat kuat di depan orang lain. Mendengar perkataannya, aku tidak mampu lagi menahan air mata. Aku akhirnya menceritakan semua rasa kecewa dan kesedihan yang selama ini kupendam sendirian. Nara hanya mendengarkan tanpa menghakimi ataupun menyalahkanku.
Hari itu aku menyadari bahwa memendam luka sendirian hanya akan membuat hati semakin lelah. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengar dan memahami perasaannya. Kini aku masih suka tertawa dan bercanda seperti biasanya, tetapi bukan lagi untuk menyembunyikan luka. Aku mulai belajar bahwa merasa sedih, kecewa, dan gagal adalah hal yang wajar dalam hidup. Karena di balik tawa seseorang, bisa saja ada luka yang sedang berusaha disembuhkan.
Quotes
Quotes 1:
Oleh Ifdalil Akbar
“Tawaku mungkin terdengar paling keras, tapi justru di
situlah aku paling pandai menyembunyikan luka yang tak pernah benar-benar
sembuh.”
Quotes 2:
Oleh Ifdalil Akbar
“Aku tertawa bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi
karena aku sudah terlalu lelah menjelaskan betapa hancurnya diriku.”

Posting Komentar