RASA PENGURUS 03: Tawaku dan luka dalam diriku

 

                  

SENANDIKA

Senandika 1:

Lelucon

Oleh Siti Haura Hawari

Aku menutup pintu yang menghubungiku dengan manusia luar. Menghembuskan nafas lalu termenung memikirkan lelucon yang telah dilontarkan. Aku berkata lirih, “apakah lelucon itu terlalu lucu hingga mereka tertawa sekeras itu?”

Mungkin, mereka memang tidak sengaja menertawakannya. Tertawa lalu melupakannya seperti biasa. Padahal aku tahu, batinku terguncang hingga kata diam ingin sekali aku ucapkan. Senyum tulus di wajahku membeku hingga rasanya seperti dipaksakan.

Ingin sekali aku membalas lelucon itu. Berkata dengan nada serius, lalu dengan bentuk wajah yang tidak tersenyum, seakan melepaskan topeng di hadapan makhluk sosial.

“Itu tidak lucu, sungguh.”


Senandika 2: 

Topeng

Oleh Siti Haura Hawari

Menatap kerumunan, aku menyadari akan satu hal. Bahwa betapa pandainya manusia berpura-pura. Berpura-pura bertingkah biasa tapi aslinya sengsara. Berpura-pura menikmati percakapan padahal ingin keluar paling awal. Berpura-pura bertingkah konyol saat batin sedang hampa dalam diam.

Mungkin inilah yang mereka namai topeng. Bentuk topeng yang tidak pernah terlihat tapi selalu menghiasi wajah. Seakan dia ada namun tidak terdeteksi oleh indra manusia. Topeng yang tampaknya akan mulai dilepas saat sendirian.

Mungkin, topeng bukanlah kata yang tepat. Aku menamai itu, “adaptasi sosial.”


Cerpen

Tawaku dan Luka Dalam Diriku

Oleh Athifa Khairiyah

Namaku Kala. Di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang paling ceria dan mudah tertawa. Aku sering membuat suasana kelas menjadi ramai dengan candaan-candaanku. Teman-temanku bahkan menganggap aku tidak pernah memiliki masalah dalam hidup. Namun, kenyataannya tidak seperti yang mereka lihat.

Sejak lama, aku memiliki impian untuk masuk ke sekolah favorit yang sangat kuinginkan. Aku belajar dengan sungguh-sungguh setiap hari, mengurangi waktu bermain, dan berusaha mendapatkan nilai terbaik. Aku benar-benar yakin bahwa semua usahaku akan membuahkan hasil. Akan tetapi, saat hari pengumuman tiba, namaku tidak tercantum dalam daftar siswa yang diterima. Saat itu, aku hanya bisa menatap layar telepon genggamku dengan perasaan hampa. Rasanya sesak, tetapi aku tidak mampu menangis.

Hal yang paling menyakitkan adalah ketika melihat teman-temanku merayakan keberhasilan mereka. Aku tetap tersenyum dan mengucapkan selamat kepada mereka, meskipun di dalam hati aku merasa sangat kecewa. Sejak saat itu, aku mulai sering menyalahkan diriku sendiri. Aku merasa tidak cukup pintar dan tidak sebaik orang lain. Namun, aku tidak pernah menceritakan perasaanku kepada siapa pun karena takut dianggap lemah.

Akhirnya, aku memilih menyembunyikan semua rasa kecewa itu di balik tawa. Aku menjadi lebih sering bercanda dan selalu berusaha terlihat bahagia. Semua orang menganggap hidupku baik-baik saja, dan aku membiarkan mereka berpikir demikian.

Suatu hari, guru meminta kami menulis satu kalimat tentang apa yang sebenarnya sedang kami rasakan. Awalnya aku bingung harus menulis apa, tetapi tanpa sadar tanganku menuliskan kalimat, “Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.” Aku terdiam membaca tulisan itu karena untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa selama ini aku hanya membohongi diriku sendiri.

Setelah pelajaran selesai, sahabatku yang bernama Nara menghampiriku. Ia berkata bahwa aku tidak harus selalu terlihat kuat di depan orang lain. Mendengar perkataannya, aku tidak mampu lagi menahan air mata. Aku akhirnya menceritakan semua rasa kecewa dan kesedihan yang selama ini kupendam sendirian. Nara hanya mendengarkan tanpa menghakimi ataupun menyalahkanku.

Hari itu aku menyadari bahwa memendam luka sendirian hanya akan membuat hati semakin lelah. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengar dan memahami perasaannya. Kini aku masih suka tertawa dan bercanda seperti biasanya, tetapi bukan lagi untuk menyembunyikan luka. Aku mulai belajar bahwa merasa sedih, kecewa, dan gagal adalah hal yang wajar dalam hidup. Karena di balik tawa seseorang, bisa saja ada luka yang sedang berusaha disembuhkan.

Quotes

Quotes 1:

Oleh Ifdalil Akbar

“Tawaku mungkin terdengar paling keras, tapi justru di situlah aku paling pandai menyembunyikan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.


Quotes 2:

Oleh Ifdalil Akbar

“Aku tertawa bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena aku sudah terlalu lelah menjelaskan betapa hancurnya diriku.”

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama