QUOTES
"Senyuman adalah alasan yang tepat untuk menyembunyikan luka"
Quotes 2:
Oleh Siti Haura Hawari
“Aku
bukannya tidak pernah terluka, hanya saja aku pandai menertawakannya”
Cerpen
Tentang Tawa yang Tidak Bahagia
By: Izzah Khairunnisa
Sore
berganti malam, malam berganti pagi, lalu pagi kembali ditelan sore.
Kota tak pernah benar-benar berhenti. Mobil, motor, dan angkutan umum berlarian
seperti sedang mengejar sesuatu yang tak pernah sempat mereka raih. Klakson
bersahutan, lampu toko menyala satu per satu, sementara di sudut trotoar dekat
penyebrangan jalan, seorang laki-laki tua masih duduk diam menatap keranjang
kerupuk udangnya yang nyaris penuh. Kerupuk itu masih penuh. Ia menatap
dagangannya lama, lalu menghela napas pelan. “Hari ini belum habis lagi…”
Tangannya
mulai merapikan plastik-plastik dagangan yang mulai diterbangkan angin sore. Ia
bangkit perlahan sambil mengangkat keranjang dagangannya. Langkahnya tertatih
menyusuri jalan kota yang semakin malam semakin ramai. Di sakunya hanya tersisa
uang lima ribu hasil jualan hari ini. Uang itu terlalu sedikit untuk ongkos
pulang dan makan malam sekaligus. Akhirnya ia membeli satu bungkus mi instan
murah di warung kecil dekat lampu merah.
Malam
mulai larut saat ia melewati sebuah jembatan panjang. Sungai di bawahnya tampak
hitam dan tenang. Angin malam berhembus dingin menusuk kulit. Di tengah
jembatan berdiri seorang pemuda. Tubuhnya tegak, tetapi tatapannya kosong. Ia
menunduk menatap sungai sambil menggenggam pisau kecil erat-erat. Telapak
tangannya berdarah, tetapi ia tak tampak peduli.
Lelaki
tua itu memperhatikannya sekilas. Ada sesuatu yang aneh. Namun ia tidak
bertanya apa-apa. Ia justru berjalan ke ujung jembatan, lalu kembali menggelar
karpet dagangannya seolah masih ingin berjualan. Pemuda itu melirik heran.
Sepuluh
menit berlalu dalam diam.
Hingga
suara motor memecah suasana. Dua anak muda berhenti tepat di depan lelaki tua
itu. “Pak, beli dua kerupuk ini berapa?” tanya salah satunya. “Dua puluh ribu,
Nak.”
Saat
lelaki tua itu sibuk membungkus dagangan, teman anak muda itu diam-diam
mengambil satu bungkus lagi dan memasukkannya ke jaket. “Ini uangnya, Pak.”
Lelaki tua menerima uang itu lalu mengangguk pelan. Namun tiba-tiba anak muda
itu membentak.
“Mana
kembaliannya?”
“Loh…
ini pas dua puluh ribu, Nak.”
“Ini
lima puluh ribu, Pak! Bapak bohong?”
Suara
mereka meninggi. Salah satu mendorong tubuh lelaki tua itu hingga hampir jatuh.
Pemuda yang berdiri di tengah jembatan langsung berjalan cepat menghampiri.
“Woi!”
Tanpa
banyak bicara ia menarik kerah salah satu dari mereka lalu memukulnya hingga
keduanya ketakutan dan kabur meninggalkan motor mereka. Napas pemuda itu
memburu. Emosinya meledak begitu saja. “Pak, kenapa diam saja? Mereka
jelas-jelas nipu bapak!” Lelaki tua itu
hanya tersenyum kecil sambil membereskan kerupuk yang berserakan.
“Mau
bagaimana lagi, Nak,” jawabnya pelan. “Orang seperti bapak memang gampang
ditipu.”
“Tapi
bapak bisa lawan!”
“Tenaga
bapak sudah tidak ada.”
Pemuda
itu terdiam. Tangannya masih menggenggam pisau. Lelaki tua itu menatap wajah
pemuda di depannya lama sekali.
“Kamu
mau bunuh diri ya?” Pertanyaan itu membuat pemuda itu membeku. Matanya langsung
memerah. Kalimat yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh pelan bersama napasnya
yang gemetar.
“Kalau
hidup isinya cuma capek, buat apa dijalani…”
Lelaki
tua itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan duduk di tepi jembatan, memandang
sungai hitam yang mengalir tenang di bawah sana. Angin malam meniup baju
lusuhnya, membawa dingin yang terasa sampai ke tulang. Pemuda itu masih berdiri
sambil menggenggam pisaunya erat. Lelaki tua itu tersenyum kecil. Ia tahu
rasanya lelah pada hidup.
Setiap
hari ia bangun sebelum matahari muncul, membawa keranjang kerupuk berjalan dari
stasiun ke trotoar kota. Kadang dagangannya habis, lebih sering tidak. Kadang
orang membeli sambil tersenyum, kadang mengusirnya seperti pengganggu jalanan.
Namun anehnya, ia masih bisa tertawa. Bukan karena hidupnya bahagia, melainkan
karena ia tidak punya tenaga lagi untuk terus menangisi semuanya.
Matanya
perlahan menatap pemuda di depannya. Dulu ia juga punya seorang anak laki-laki.
Anak yang paling ramai di rumah. Tawanya selalu memenuhi ruang makan kecil
mereka. Tetangga mengenalnya sebagai anak yang ceria dan mudah akrab dengan
siapa saja. Sampai suatu malam anak itu pergi. Tidak meninggalkan apa-apa
selain kamar kosong dan penyesalan yang terus hidup di kepala lelaki tua itu.
Sejak saat itu ia sadar, tidak semua orang yang tertawa berarti baik-baik saja.
Pemuda
itu menunduk. Bahunya bergetar pelan. Tangisnya pecah tanpa suara, seolah
selama ini ia terlalu lelah untuk sekadar terlihat rapuh. Lelaki tua itu
membuka keranjang dagangannya perlahan. Ia mengambil satu bungkus kerupuk udang
lalu menyodorkannya.
“Pegang
saja,” ucapnya pelan. Pemuda itu menerimanya dengan bingung.
“Kadang
manusia cuma butuh alasan kecil supaya tetap bertahan sampai besok.” Pemuda itu
menatap bungkus kerupuk di tangannya lama sekali. Sementara di atas jembatan
tua yang mulai sepi itu, dua orang asing duduk berdampingan dalam diam—satu
menyembunyikan lapar di balik tawanya, dan satunya lagi menyembunyikan luka di
balik wajah yang selama ini terlihat kuat-baik saja.

Posting Komentar