RASA FKM 03: Tawaku dan luka dalam diriku

 

                 

QUOTES

Quotes 1:

Oleh Siti Haura Hawari

"Senyuman adalah alasan yang tepat untuk menyembunyikan luka"


 Quotes 2:

Oleh Siti Haura Hawari

“Aku bukannya tidak pernah terluka, hanya saja aku pandai menertawakannya”


Cerpen

Tentang Tawa yang Tidak Bahagia

By: Izzah Khairunnisa

Sore berganti malam, malam berganti pagi, lalu pagi kembali ditelan sore.
Kota tak pernah benar-benar berhenti. Mobil, motor, dan angkutan umum berlarian seperti sedang mengejar sesuatu yang tak pernah sempat mereka raih. Klakson bersahutan, lampu toko menyala satu per satu, sementara di sudut trotoar dekat penyebrangan jalan, seorang laki-laki tua masih duduk diam menatap keranjang kerupuk udangnya yang nyaris penuh. Kerupuk itu masih penuh. Ia menatap dagangannya lama, lalu menghela napas pelan. “Hari ini belum habis lagi…”

Tangannya mulai merapikan plastik-plastik dagangan yang mulai diterbangkan angin sore. Ia bangkit perlahan sambil mengangkat keranjang dagangannya. Langkahnya tertatih menyusuri jalan kota yang semakin malam semakin ramai. Di sakunya hanya tersisa uang lima ribu hasil jualan hari ini. Uang itu terlalu sedikit untuk ongkos pulang dan makan malam sekaligus. Akhirnya ia membeli satu bungkus mi instan murah di warung kecil dekat lampu merah.

Malam mulai larut saat ia melewati sebuah jembatan panjang. Sungai di bawahnya tampak hitam dan tenang. Angin malam berhembus dingin menusuk kulit. Di tengah jembatan berdiri seorang pemuda. Tubuhnya tegak, tetapi tatapannya kosong. Ia menunduk menatap sungai sambil menggenggam pisau kecil erat-erat. Telapak tangannya berdarah, tetapi ia tak tampak peduli.

Lelaki tua itu memperhatikannya sekilas. Ada sesuatu yang aneh. Namun ia tidak bertanya apa-apa. Ia justru berjalan ke ujung jembatan, lalu kembali menggelar karpet dagangannya seolah masih ingin berjualan. Pemuda itu melirik heran.

Sepuluh menit berlalu dalam diam.

Hingga suara motor memecah suasana. Dua anak muda berhenti tepat di depan lelaki tua itu. “Pak, beli dua kerupuk ini berapa?” tanya salah satunya. “Dua puluh ribu, Nak.”

Saat lelaki tua itu sibuk membungkus dagangan, teman anak muda itu diam-diam mengambil satu bungkus lagi dan memasukkannya ke jaket. “Ini uangnya, Pak.” Lelaki tua menerima uang itu lalu mengangguk pelan. Namun tiba-tiba anak muda itu membentak.

“Mana kembaliannya?”

“Loh… ini pas dua puluh ribu, Nak.”

“Ini lima puluh ribu, Pak! Bapak bohong?”

Suara mereka meninggi. Salah satu mendorong tubuh lelaki tua itu hingga hampir jatuh. Pemuda yang berdiri di tengah jembatan langsung berjalan cepat menghampiri.

“Woi!”

Tanpa banyak bicara ia menarik kerah salah satu dari mereka lalu memukulnya hingga keduanya ketakutan dan kabur meninggalkan motor mereka. Napas pemuda itu memburu. Emosinya meledak begitu saja. “Pak, kenapa diam saja? Mereka jelas-jelas nipu bapak!”  Lelaki tua itu hanya tersenyum kecil sambil membereskan kerupuk yang berserakan.

“Mau bagaimana lagi, Nak,” jawabnya pelan. “Orang seperti bapak memang gampang ditipu.”

“Tapi bapak bisa lawan!”

“Tenaga bapak sudah tidak ada.”

Pemuda itu terdiam. Tangannya masih menggenggam pisau. Lelaki tua itu menatap wajah pemuda di depannya lama sekali.

“Kamu mau bunuh diri ya?” Pertanyaan itu membuat pemuda itu membeku. Matanya langsung memerah. Kalimat yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh pelan bersama napasnya yang gemetar.

“Kalau hidup isinya cuma capek, buat apa dijalani…”

Lelaki tua itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan duduk di tepi jembatan, memandang sungai hitam yang mengalir tenang di bawah sana. Angin malam meniup baju lusuhnya, membawa dingin yang terasa sampai ke tulang. Pemuda itu masih berdiri sambil menggenggam pisaunya erat. Lelaki tua itu tersenyum kecil. Ia tahu rasanya lelah pada hidup.

Setiap hari ia bangun sebelum matahari muncul, membawa keranjang kerupuk berjalan dari stasiun ke trotoar kota. Kadang dagangannya habis, lebih sering tidak. Kadang orang membeli sambil tersenyum, kadang mengusirnya seperti pengganggu jalanan. Namun anehnya, ia masih bisa tertawa. Bukan karena hidupnya bahagia, melainkan karena ia tidak punya tenaga lagi untuk terus menangisi semuanya.

Matanya perlahan menatap pemuda di depannya. Dulu ia juga punya seorang anak laki-laki. Anak yang paling ramai di rumah. Tawanya selalu memenuhi ruang makan kecil mereka. Tetangga mengenalnya sebagai anak yang ceria dan mudah akrab dengan siapa saja. Sampai suatu malam anak itu pergi. Tidak meninggalkan apa-apa selain kamar kosong dan penyesalan yang terus hidup di kepala lelaki tua itu. Sejak saat itu ia sadar, tidak semua orang yang tertawa berarti baik-baik saja.

Pemuda itu menunduk. Bahunya bergetar pelan. Tangisnya pecah tanpa suara, seolah selama ini ia terlalu lelah untuk sekadar terlihat rapuh. Lelaki tua itu membuka keranjang dagangannya perlahan. Ia mengambil satu bungkus kerupuk udang lalu menyodorkannya.

“Pegang saja,” ucapnya pelan. Pemuda itu menerimanya dengan bingung.

“Kadang manusia cuma butuh alasan kecil supaya tetap bertahan sampai besok.” Pemuda itu menatap bungkus kerupuk di tangannya lama sekali. Sementara di atas jembatan tua yang mulai sepi itu, dua orang asing duduk berdampingan dalam diam—satu menyembunyikan lapar di balik tawanya, dan satunya lagi menyembunyikan luka di balik wajah yang selama ini terlihat kuat-baik saja.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama