RASA 11

Tema: Hangatnya Keluarga

 

QUOTES

Tidak perlu kemewahan, tidak perlu kekayaan, kehangatan dalam keluarga lah yang paling membahagiakan, tidak dapat terukur luasnya.  Jangan beri ruang untuk penyesalan. Sebab belum tentu ada hari esok

-Annora Febrianti-

 

SENANDIKA

Eksklusif Momen

Karya: Adisty Fadhilah Pohan

Perjalanan waktu perlahan mengantarkan setiap insan akan berubah. Sebuah keluarga tak terelakkan mengalami hal yg serupa. Umur, pendidikan, karir dan kesibukan lainnya juga hal yg terlibat. Hangatnya suatu rumah akan mengalami perubahan.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya tentang hal itu hingga aku mengadu nasib di kota orang. Lima tahun lalu,  rasa hangat dalam sebuah keluarga selalu raga dan batin ini terima 24/7 dalam 365 hari. Kini, rasa itu hanya bisa aku nikmati di waktu-waktu tertentu.

Kepulangan ke kampung halaman menjadi momen yang aku tunggu. Di sudut muka bumi yang lain, ada rasa hangat yang menunggu untuk aku hampiri. Dan di waktu yang tepat aku kembali menginjakkan kaki di "Kota Idaman". Begitu kata orang-orang.

Di daun pintu, ibu dan ayahku menyambut dengan nangis dan harus setiap kepulanganku dan saudara-saudaraku. Kehangatan itu kembali dan aku rekam dalam memori ingatan sebagai pengingat dan penguat bagiku ketika jauh dari mereka.

 

CERPEN

Kehangatan Keluarga

Karya: Dhea Amelia

Aku mematut diri di depan cermin, berulang kali menyisir rambut panjangku agar tampak rapi. Diana, teman sekelasku tiba-tiba mengajakku untuk pergi makan malam bersama keluarganya. Teringat ajakannya lusa kemarin yang membuatku cukup terkejut. Aku menanyakan alasan mengapa mengajakku untuk makan malam bersama, katanya itu hanya perayaan kecil karena ia berhasil memiliki teman sepertiku. Aku semakin tidak mengerti, kenapa begitu senang memiliki teman sepertiku? Aku selalu bertanya-tanya setelah ajakan tersebut.

Berbeda dengan Diana, aku bukan berasal dari keluarga yang berada. Setiap malam harus berbagi kasur dengan adikku untuk tidur. Saat musim hujan pun aku harus sibuk menalangi tetesan hujan yang berasal dari atap bocor dengan ember dan bakom agar rumahku tidak tergenang air. Aku tidak pernah mengajak temanku main ke rumah karena tidak ingin temanku mendengar adu mulut antara bapak yang pengangguran dan kecanduan judi dengan ibu yang bekerja sebagai pembantu setengah hari. Hidupku sangat berbeda dengan Diana.

Aku menghela napas kemudian mengecek ponsel, memastikan apakah ojek online yang aku pesan untuk mengantarkanku ke rumah Diana sudah sampai atau belum. Sembari menunggu, aku memakai sepatu yang paling sering kupakai ketika main keluar. Tanpa berpamitan dengan bapak, aku langsung menaiki ojek yang baru sampai tidak lama setelah sepatuku terpasang.

            Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan apa yang harus aku katakan begitu sampai di sana. Bagaimana jika perkataanku menyinggung perasaan orangtua Diana. Pikiran-pikiran itu membuatku makin gugup dan jantungku berdegup keras.

            Tak lama kemudian, aku pun sampai di rumah Diana. Diana menyambutku di teras rumahnya dengan penuh senyuman, membuatku yang awalnya gugup menjadi lebih santai. Ibunya Diana langsung mengajakku untuk langsung masuk ke ruang makan. Disana aku bertemu dengan ayahnya Diana. Aura yang dipancarkan oleh ayahnya Diana sangat berbeda dengan bapak. Tutur kata beliau juga sangatlah halus, tidak seperti bapak yang tutur katanya kasar hingga dapat menyayat hatiku.

            Tidak lama kemudian, makanan disajikan di atas meja. Aku terpaku sejenak melihat menu makanan yang tampak terlihat seperti makanan restoran. Aku tidak pernah makan makanan rumah semewah ini di sepanjang hidupku. Aku makan dengan lahap sembari mengobrol dengan Diana dan kedua orangtuanya.

            Diam aku sedikit termenung memperhatikan Diana dengan orangtuanya yang sedang mengobrol asik sembari diiringi canda tawa. Kapan aku bisa mengobrol di atas meja makan dengan makanan seenak ini bersama orangtuaku? Kapan aku bisa merasakan kehangatan canda tawa yang dilontarkan dari obrolan orang tuaku seperti halnya yang dilakukan orangtua Diana?

            Air mata menumpuk di ujung mataku, namun aku tahan. Aku tidak boleh terlihat menyedihkan dihari bahagia temanku. Diam-diam aku mengepalkan tangan di bawah meja, menyemangati diri agar tidak bersedih. Dalam hati, aku menguatkan tekad untuk dapat membawa kehangatan seperti ini di keluargaku kelak.

 

PUISI

 

Kehangatan yang Kurindukan

Karya: Yusrena

 

Kupandang sinarnya sang rembulan

Dingin angin malam menusuk tulang

Tak gentar, menunggu sendiri dengan patuh

Sebuah dekapan hangat yang selalu kurindu

 

Kuingat..

Kala ‘ku bersandar di lututmu

Kau usap kepalaku, kau dendangkan lagu tidurmu

Lelapku ditemani kehadiran dirimu

Oh, begitu tentram

Jauh dari kejamnya dingin malam

 

Apabila aku datang kembali

Kupinta satu permintaan saja

Jangan bangunkan aku, biarkan aku tinggal sesaat

Aku ingin tidur tenang

Ingin bergelung dalam hangat

Barang sekejap saja

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama