MADING 27

 

TEMA: TANAH AIR

·      POJOK QUOTES

Benar kata orang, kemanapun kau pergi, sejauh manapun kau melangkah pergi, kau akan tetap pulang. Walau harus berjelajah dunia tetap aku tak menemukan rasa yang sama, sama seperti tanah airku.

Mirna Saputri

 

Jika yang kita lihat saat ini tanah air sudah gegap gempita dengan segala penyimpangan yang ada, sungguh rasa kecintaan kepadanya sedikit saja tidak akan pernah sirna.

Nola Vita Sari

 

·      POJOK INFO

 Wawasan Kebangsaan Tumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air

Wawasan Kebangsaan merupakan pemahaman masyarakat mengenal jati diri bangsanya dalam mendayagunakan segala potensi negeri untuk mencapai cita-cita dan kepentingan nasional. Dalam kehidupan modern, arus globalisasi dapat membantu perkembangan sebuah negara. Namun dapat juga berdampak negatif jika masyarakat tidak memiliki wawasan kebangsaan yang cukup.

Wawasan kebangsaan dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air pemuda Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi. Masyarakat yang memiliki wawasan kebangsaan luas dapat menumbuhkan semangat Kebangkitan Nasional. Namun, rendahnya wawasan kebangsaan berdampak pada tergerusnya rasa nasionalisme dan krisis jati diri bangsa.

 

Sumber:

http://indonesiabaik.id/infografis/wawasan-kebangsaan-tumbuhkan-rasa-cinta-tanah-air

Harisa Rahma Wenatri

·      POJOK TIPS

 Tips Mencintai Tanah Air

1.    Bangga memakai produk asli buatan Indonesia

2.    Menjaga dan merawat kebersihan lingkungan bersama

3.    Tidak menyebarkan ujaran kebencian atau berita hoaks

4.    Menghargai para seniman dengan tidak membeli kaset bajakan

5.    Taat lalu lintas saat berkendara di jalanan

6.    Menikmati indahnya Indonesia dengan traveling ke pelosok negeri

7.    Tetap menjaga persatuan dan kesatuan negeri tercinta

 

Luvita Aura Putri

 

·      POJOK SASTRA

 Mengalir Darah Soekarno di Nadiku

“Berangkatlah, Nak. Jangan lupakan Ibu dan Bapak di sini! Sampai di sana jangan lupa telpon Ibu, Rit” ucap Ibu kepada putra semata wayangnya.

Tidak lupa Farit memeluk dengan erat sambil berbisik halus kearah telinga kanan ibunya “Farit pamit dulu ya, Bu, doakan Farit biar dapat kerja bagus. Ibu jangan sering melamun dokter udah bilang itu gak bagus untuk kesehatan Ibu. Kalau Ibu rindu tinggal telpon saja nomor Farit, ya, Bu, jangan terlalu khawatir karena anak semata wayang Ibu ini sudah besar dan mandiri bahkan bisa jadi bodyguard pribadi Ibu,” gurau Farit menyakinkan Ibunya. Bulir air mata mulai mengalir membasahi wajah Ibu mendengar perkataan putranya yang bergaya bak Spiderman. “Ibu bingung, Nak, harus bahagia atau sedih mendengar perkataan kamu ini,” batin Bu Mina.

Keberangkatan Farit yang sempat tertunda 5 tahun lalu karena tragedi penembakan ayahnya di perbatasan Natuna mengingatkannya dengan memori pahit itu. Saat kepulangan ayah yang begitu dibanggakannya membawa duka lara, pulang membawa gelar baru didepan namanya mengisakkan tangis yang mendalam dengan jasad yang berlumur darah bekas peluru yang menembus bagian jantung demi mempertahankan wilayah Indonesia diperbatasan Natuna.

Akh … hancur, semuanya hancur karena Indonesia. Keluargaku hancur hanya karena sebidang tanah perbatasan. Kenapa harus kami? Kenapa Tuhan?” teriak Farit di balkon kamar yang kedap suara. Sudah 3 Tahun dilaluinya di USA dengan lingkungan yang jauh berbeda tetapi kenangan 5 Tahun lalu masih melekat kuat di memorinya. Farit berdiri di depan cermin melihat dirinya yang malang, wajah kusam bekas tangisan membuat penampilannya kocar-kacir.

“Kalau aku seperti ini terus, aku akan benar-benar gila tapi kenapa semalang ini kehidupan yang harus aku lalui. Ibu di Indonesia, aku di USA dan Bapak di kuburan. Kenapa kami harus hidup terpisah? Aku rindu keluarga yang lengkap bercerita dan tertawa bersama saling bertukar cerita. Tapi kenapa Indonesia begitu kejam? Aku harus melupakan semua memori pahit mengenai Indonesia biar hidupku tenang” ucap Farit pada dirinya menguatkan tekad melupakan kenangan lamanya.

Setelah 3 hari berlalu, Farit terlihat lebih baik dari hari sebelumnya, ambisinya untuk melupakan Indonesia benar-benar diusahakan, Farit rela mengeluarkan berjuta-juta uang dan meluangkan waktu setiap sorenya pergi ke psikolog di RS ternama Amerika untuk berkonsultasi mengenai trauma yang dialami. Sebelum masuk ke Mobil terdengar notifikasi ponsel disakunya pertanda ada pesan masuk. “Assalamualaikum, Nak. Ibu rindu Farit” pesan singkat dari Ibu Mina. Membaca pesan masuk Farit menunda niatnya untuk pergi ke RS dan langsung menelpon balik Bu Mina.

“Assalamualaikum, Bu,”

“Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana kabarmu, Nak? Baik-baik sajakan? Farit udah makan? Jangan terlalu sibuk kerja sampai lupa makan, nanti kamu sakit kalau udah begitu, siapa yang akan jaga kamu, Rit?”

“Iya… iya Bu, jangan banyak nanya gitu dong Bu, Farit gak tau mau jawab yang mana dulu,”

“Kebiasan kamukan gitu, selalu lupa makan sakit dulu baru ingat kesehatan,” balas Bu Mina.

“Hehe, itu, kan dulu Bu. Sekarang udah gak lagi Bu. Alhamdulillah Farit baik-baik aja Bu. Kalau Ibu disana masih suka ngelamun, Bu?” Farit balik bertanya menjahili Ibunya.

“Kamu itu ya gak mau kalah selalu saja ada alasan dan pertanyan lain yang buat Ibu berhenti ngomong” balas Ibu.

“Hehe, ibu sih, buka kartu duluan,” ledek Farit penuh tawa.

“Ibu senang dengar kamu tertawa, Nak. Udah lama Ibu gak dengar suara girang kamu ini. Semenjak Bapakmu pergi kamu itu kayak mayat hidup jarang senyum, Ibu sampai khawatir mikirin masa depanmu. Syukur alhamdulillah Allah masih mengabulkan doa Ibu…”

Mendengar perkataan Ibu membuat Farit terdiam beberapa menit.

“Hallo, kamu kenapa, Nak? Ibu salah ngomong, ya? Farit … Kamu masih dengar Ibu, kan?” tanya Ibu.

“Eh … gak kok Bu, tadi ada karyawan lagi nanya masalah kerjaan ke Farit” balas Farit mengalihkan perhatian.

“Kamu kapan pulang ke Indonesia, Rit?” tanya Ibu.

“Farit gak nyakin akan pulang ke Indonesia lagi, Bu, niatnya kita akan tinggal bersama disini, Bu, Farit akan jemput Ibu ke Sumbar. Pasti senang hidup kitakan Bu?” tanya Farit memastikan Ibu Mina.

“Apa? Tinggal di sana? Ibu gak mau, kalau kita tinggal di sana. Bapakmu gimana, Rit? Mau di tinggal, juga? Apa kamu tidak kasihan melihat Bapak kesepian terus?” balas Bu Mina.

“Kitakan bisa pulang kampung, Bu, ziarah ke kuburan Bapak sekali-kali, Bu,” sahut Farit.

“Kamu ini kenapa sih, Rit? Tiba-tiba ngajak tinggal disana ada masalah apa sebenarnya?” selidik Bu Mina.

“Gak ada masalah apa pun, Bu. Kalau kita tinggal disini keberlangsungan hidup kita akan jauh lebih aman dan terjamin, Bu, daripada di Indonesia. Kita beli apa pun, sesuka Ibu bisa terpenuhi sedangkan di Indonesia kita buka siapa-siapa, Bu? Kalau dipikir lagi, Indonesia cuman buat keluarga kita hancur, Bu.”

“Siapa yang bilang begitu, Nak? Walaupun banyak negeri kau jalani, yang bisa memberikan segala yang kau inginkan tapi jangan pernah lupa dengan tanah kelahiranmu, Rit.”

“Tapi, Bu…”

“Farit, Ibu tidak pernah mengajarkan sikap egois seperti ini. Ingatlah selalu pesan Ibu! Garuda akan selalu ada di dadamu bahkan kemana pun kau pergi dan darah merah putih akan selalu mengalir di urat nadimu. Apa kamu tidak bisa melihat pengorbanan Bapak demi bahkan nyawanya dikorbankan, Rit, dan dengan mudahnya kamu berkata begitu, Ibu kecewa sama kamu, Rit. Sudah dulu, ya, Ibu tadi lagi masak nanti jadi gosong masakannya. Jaga dirimu, Nak. Assalamualaikum,” potong Ibu mengakhiri pembicaraan.

“Hm… Waalaikumsalam, Bu. I love you, Mom,” balas Farit lirih

Farit masih teringat dengan perkataan Ibunya “Garuda akan selalu ada di dadamu bahkan kemana pun kau pergi dan darah merah putih akan selalu mengalir di urat nadimu…”  terdengar berkali-kali ditelinganya. Kalimat itu sangat mempengaruhi pikiran Farit bahkan di ruang rapat saat bertemu dengan investor Singapura Farit beberapa kali menyebutkan kata “Garuda di dadaku”.

Sekretaris Farit bingung melihat tindakan atasannya itu, sesampainya di kantor Farit meminta maaf kepada sekretarisnya karena tindakannya merugikan 35% perusahaan akibat presentasi yang kurang memikat hati investor Singapura. Farit langsung menceritakan kebimbangan yang sedang dipikirkannya. Mendengar cerita Farit membuat Isabel terkesan kagum dengan sosok Farit yang sangat mencintai Ibunya dan menyarankan Farit untuk mendaftarkan diri dalam program pertukaran CEO USA dan CEO Indonesia. Tanpa berpikir lama Farit menyiapkan berkas yang dibutuhkan dibantu Isabel sekretaris pribadinya.

Dua bulan berlalu dengan hari yang berbeda, Farit diutus menjadi pemimpin upacara pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-76 pada tanggal 17 Agustus 2021 di depan Gedung perusahaannya, Sumatera Barat dengan ditemani Ibunya sebagai tamu undangan. Acara pengibaran bendera merah putih berjalan dengan hikmat, pandangan yang terfokus pada kain merah putih yang semakin meninggi menghargai sejarah perjuangan bangsa,

Setelah barisan dibubarkan, Farit berlari memeluk dan mencium punggung tangan ibunya. “terimakasih, Nak sudah menjadi anak yang berbakti kepada orangtua” ucap Bu Mina sambil mengelus punggung Farit.

“Iya Bu, Farit juga minta maaf, Bu, karena sudah membuat Ibu marah beberapa bulan lalu. Farit terlalu egois menghakimi negara ini sebagai perusak keluarga kita dan lupa bahwa Indonesia masih memberikan Farit wanita hebat seperti Ibu. Aku janji Bu, akan menjadi salah satu dari sepuluh pemuda yang dimintai pak Ir. Soekarno dalam pidatonya menggoncangkan dunia dan membawa nama Indonesia ke dunia Internasional, sekali lagi terimakasih ibuku.”

Putriani Tambunan

 

·      POJOK HUMOR

 Kursi yang Membuat Lupa

Di suatu siang, ada dua bocah yang tengah bercanda di bawah pohon rindang.

Bagus        : “Anton, kita main tebak-tebakan, yuk! Kursi apa yang membuat orang lupa ingatan?”

Anton        : “Kursi goyang! Orang yang duduk di atas kursi goyang akan mengantuk dan tertidur. Saat tidur, orang kan lupa.”

Bagus        : (Tertawa) “Meski lucu, tapi jawabanmu salah.”

Anton        : “Hmm… kursi apa, ya?”

Bagus        : “Jawabannya adalah kursi DPR!”

Anton        : “Lho, kok begitu?”

Bagus        : “Jelas, lah! Coba kamu ingat, sebelum duduk di kursi DPR, banyak caleg yang berjanji macam-macam agar masyarakat memilih mereka. Tapi setelah merasakan kursi DPR, sekejap saja mereka hilang ingatan akan janji-janjinya.”

Anton        : “Oh, iya, betul juga.”

 

Sumber:

https://www.kozio.com/contoh-teks-anekdot/

Leny Chania Putri

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama