PUISI/SAJAK
Jelajah Hari Kebahagiaan
Oleh: Inaya Nadira Sari
Deru dingin angin pagi membuka mata,
Pemanggil surya ke tampak mata,
Perasaan hangat memeluk hati,
Membawa prasangka baik di Hari Raya
Dikejar waktu diujung jalan,
Dikejar kewajiban di dalam surau,
Semua harapan elok digaungkan,
Demi hidup sehat sentosa.
Senantiasa menunggu seperti rumah Ibu,
Bersama santapan pelepas nafsu,
Kesayangan berkumpul dalam satu ruang,
Menjadi penanda indahnya Hari Raya.
Puisi 2:
Puisi
oleh Dina Aulya Putri
Pagi ini tetap sama
takbir berkumandang,
orang-orang saling bersalaman,
dan aku… berdiri di antara semuanya.
Aku tersenyum,
tapi di dalam, ada yang belum selesai.
Ada luka yang belum sempat aku beri nama,
ada kecewa yang masih aku simpan diam-diam.
Katanya hari ini hari kemenangan,
tapi aku tahu…
aku belum sepenuhnya menang.
Aku masih mengingat hal-hal yang menyakitkan,
masih mempertanyakan kenapa harus terjadi,
masih ragu… bahkan pada perasaan sendiri.
Namun di antara semua itu,
aku tetap mengulurkan tangan,
mengucap maaf,
meski suaraku pelan dan hatiku belum sepenuhnya lega.
Mungkin ini makna yang sebenarnya
bukan tentang menjadi sempurna,
tapi tentang tetap memilih baik,
meski hati belum sepenuhnya sembuh.
Dan hari ini,
aku tidak memaksa diriku untuk utuh,
aku hanya belajar…
untuk tidak lagi lari dari diriku sendiri.
SENANDIKA
Senandika
oleh An-Nisa Salsabila
Hari raya yang terasa begitu sempurna ini, rumah dipenuhi tawa yang tak putus, aroma masakan yang semerbak, dan langkah-langkah yang saling mendekat tanpa ragu. Ada hangat yang tak bisa dijelaskan saat mata saling bertemu, senyum saling dibalas, dan cerita lama kembali hidup di antara canda.
Aku menyadari, kebahagiaan ternyata sesederhana ini. Duduk bersama, mendengar suara orang-orang tercinta, dan merasakan bahwa aku benar-benar pulang. Hari raya bukan hanya tentang perayaan, tapi tentang momen ketika hati terasa penuh oleh cinta, oleh syukur, dan oleh keluarga yang selalu menjadi tempat kembali.
Senandika
oleh Dina Aulya Putri
Hari ini semua terlihat bahagia.
Orang-orang tertawa, saling memaafkan, saling menguatkan.
Aku juga ikut tersenyum… tapi jujur, tidak sepenuhnya.
Ada bagian dari diriku yang masih berat.
Tentang hal-hal yang belum selesai,
tentang perasaan yang belum sempat aku pahami,
tentang seseorang… atau mungkin tentang diriku sendiri.
Aku sempat berpikir,
apa aku salah kalau di hari raya ini aku belum benar-benar bahagia?
Tapi kemudian aku sadar,
mungkin hari raya bukan tentang harus merasa sempurna.
Bukan tentang harus terlihat kuat atau baik-baik saja.
Mungkin… hari raya adalah tentang kejujuran.
Tentang berani mengakui bahwa aku masih terluka,
tapi tetap memilih untuk tidak menyakiti.
Tentang menerima bahwa aku belum utuh,
tapi tetap berjalan pelan-pelan.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak ingin membohongi diriku sendiri.
Aku memang belum sepenuhnya sembuh,
tapi aku juga tidak lagi seburuk kemarin.
Jadi hari ini,
di tengah semua yang terasa campur aduk,
aku memilih satu hal sederhana
aku memaafkan diriku.
Pelan-pelan.
QUOTES
Qoutes 1:
Oleh: Inaya Nadira Sari
“Tak perlu besar, kecil, tua, dan muda untuk memaafkan. Hanya diperlukan kebesaran hati untuk mendapatkan
Quotes 2:
oleh An-Nisa Salsabila
“Di hari raya yang sempurna, kebahagiaan paling sederhana adalah bisa tertawa, berkumpul, dan berbagi cerita bersama keluarga.”
CERPEN
Ketupat Wuluh Pak Somad
Oleh Izzah Khairunnisa
Hari raya selalu menjadi momen bagi banyak orang untuk tampil sempurna, baik di hadapan Tuhan maupun sesama. Namun, tidak demikian bagi keluarga Pak Somad, yang hidup sederhana di rumah kecil dengan halaman tanah.
Pagi itu, seperti biasa, Pak Somad pergi bekerja sebagai petani pengupas jagung. Ia bekerja lebih giat dari biasanya, teringat permintaan anak semata wayangnya, Rika, yang ingin baju baru untuk Lebaran. Dengan tubuh yang lelah dan kulit yang terbakar matahari, ia tetap bertahan demi senyum anaknya. Saat upah dibagikan, hasil yang diterima tidak sebanyak harapan. Namun, Pak Somad tetap berusaha membelikan Rika sebuah gaun merah sederhana. Rika sangat bahagia menerimanya.
Sepulang kerja, Rika menyambutnya.
“Bapak sudah pulang?”
“Iya, Nak. Sedang apa putri Bapak?”
“Bersihin rumah, Pak. Kata Ibu, kalau Rika rajin, nanti dibelikan baju baru. Teman-teman Rika sudah punya baju bagus… Rika juga mau.” Pak Somad tersenyum tipis.
“Iya, Nak. Kita usahakan.”
Hari Lebaran pun tiba. Keluarga kecil itu datang bersilaturahmi ke rumah saudara. Mereka membawa ketupat gulai wuluh buatan istri Pak Somad, hidangan sederhana yang dibuat dengan penuh ketulusan.
Di sana, suasana terasa berbeda. Saudara-saudara Pak Somad tampil mewah dan saling membanggakan pencapaian. Pak Somad hanya diam di sudut, sementara istrinya sibuk di dapur membantu mencuci piring.
Di halaman, Rika bermain dengan sepupunya. Ketika anak-anak lain membanggakan barang baru mereka, Rika mencoba ikut bercerita.
“Aku hari ini dibelikan baju baru, mainan baru dan sepatu baru karena puasa aku penuh.”
“Akuu jugaa oleh bapak.” Ucap Rika tak mau kalah, semua orang menatap curiga tak percaya
“Mana mungkin, lihat saja baju mu jelek sekali.”
Tak kuasa menahan sedih, Rika mendorong sepupunya hingga menangis. Keributan pun terjadi. Semua menyalahkan Rika tanpa mendengar penjelasannya. Pak Somad segera menghampiri, meminta maaf, lalu membawa anaknya pergi. Saat mencari istrinya, ia menemukan perempuan itu di dapur, bekerja tanpa dihargai.
Hatinya perih. Tanpa berkata banyak, Pak Somad mengajak istri dan anaknya pulang. Ia bahkan mengambil kembali ketupat yang mereka bawa, yang tak tersentuh sedikit pun. Ketika ada yang menyalahkannya karena dianggap membesar-besarkan masalah, Pak Somad akhirnya berkata pelan, “Di hari kemenangan ini, tak semua orang memahami maknanya.”
Mereka pun pulang, meninggalkan kemewahan yang hampa, menuju rumah sederhana yang penuh ketulusan.

Posting Komentar