RAPI 3: Viral Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI - Mengapa Kekerasan "Tumbuh Subur" di Lembaga Pendidikan?


         Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia merupakan suatu tindakan yang cukup memprihatinkan dalam menunjukkan kredibilitas mahasiswa untuk ruang lingkup pendidikan. Pertanyaan apakah lembaga pendidikan merupakan ruang aman bagi perempuan menjadi bukti bahwa kasus ini telah menjawab pertanyaan tersebut. Hal ini memicu keprihatinan  dan kritikan tajam terhadap keamanan lembaga pendidikan di Indonesia. Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi institusi akademik, karena pelakunya ialah mahasiswa hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjunjung tinggi etika dan keadilan.

            Banyak pihak menyatakan bahwa saat ini kampus bukan lagi menjadi ruang aman bagi predator seksual. Fakta bahwa pelecehan terjadi secara kolektif yang melibatkan belasan pelaku telah menunjukkan bahwa adanya kegagalan sistematis dalam menciptakan ruang aman. Masyarakat menilai bahwa institusi pendidikan tinggi masih terjebak dalam culture of silent (budaya diam), di mana kebanggaan terhadap akademik sering kali menutupi realitas pahit kekerasan yang terjadi di mayarakat.

            Setelah menelaah fenomena ini, bisa dilihat beberapa faktor krusial yang menyebabkan kekerasan seksual terus berulang di lingkungan kampus. Yang pertama kali dan sering kita jumpai ialah “candaan seksual” dan objektifikasi perempuan yang dianggap lumrah dalam pergaulan sehari-hari. Ketika tindakan merendahkan martabat orang lain dianggap sebagai lelucon, maka batasan etika yang telah ada dalam norma kehidupan perlahan akan menjadi kabur dan terlupakan. Faktor kedua ialah banyak kasus yang terjadi melibatkan pelaku yang memiliki jabatan tertentu atau posisi dominan, baik secara senioritas maupun jabatan dalam organisasi mahasiswa. Hal ini menciptakan peluang yang besar bagi pelaku untuk mengeksploitasi korban tanpa merasa takut terhadap konsekuensi. Selanjutnya, dalam banyak kasus yang melibatkan banyak pelaku seringkali terjadi peleburan tanggung jawab moral. Tekanan  untuk “mengikuti arus” atau mengikuti suara dominan dalam lingkaran pertemanan yang toksik akan membuat individu kehilangan kontrol diri dan empati. Hal ini yang membuat suatu kelompok pertemanan akan saling mempengaruhi satu sama lain dan akan sulit untuk berubah jika terus berada di bawah pengaruh “suara dominan”. Selain itu, kurangnya kendali dari pihak institusi juga menjadi faktor yang menyebabkan kekerasan seksual terus berulang di lingkungan kampus. Sering kita jumpai terkadang sanksi yang diberikan dianggap tidak memberikan efek jera dan memberikan perasaan aman bagi pelaku, sehingga merasa kebal hukum.

            Selain faktor di atas, salah satu poin krusial yang masih sering terabaikan ialah perasaan takut yang dimiliki korban unuk melaporkan pelaku. Budaya victim blaming (menyalahkan korban) dan rasa khawatir akan dampak yang ditimbulkan terhadap keberlanjutan akademik membuat banyak kasus terkubur dan hilang begitu saja. Kampus dinilai lebih sering fokus pada upaya menjaga reputasi almamater dibandingkan memberikan perlindungan nyata bagi korban.

            Menanggapi situasi ini, terdapat beberapa desakan kuat agar pihak institusi melakukan langkah-langkah perubahan. Pertama, kampus harus memastikan pihak berwenang seperti Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) bekerja secara transparan, bebas dari intervensi pihak manapun, dan sepenuhnya berpihak terhadap korban. Kedua, pihak institusi hendaknya menyediakan kanal pengaduan yang menjamin kerahasiaan identitas pelapor, meminimalisir intimidasi dan stigma sosial. Ketiga, memastikan korban mendapatkan rehabilitasi mental serta bantuan hukum tanpa dipungut biaya dan tanpa tekanan. Keempat, pihak institusi hendaknya memberikan sanksi berat bagi pelaku yang terbukti bersalah tanpa memandang status sosial atau prestasi akademiknya sebagai bentuk integritas dan akuntabilitas publik.

Responden:

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas

 

Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cg544y6r4j7o?fbclid=PAT01DUARMD_ZleHRuA2FlbQIxMABzcnRjBmFwcF9pZA81NjcwNjczNDMzNTI0MjcAAadB6wUfoyM2CFY4YYWCsA59AgnP9ei1TlaM47PKFkL-qGHxtGPo4A3fQrEmXw_aem_X_yLNDy73jgIrvCqx1JzrQ

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama