Panas Ricuh! Diskusi Intelektual Terbuka Bersama Wakil Ketua Komisi VI DPR RI


 

Padang, UKPM PENA KM FKM UNAND — Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM KM UNAND) menjadi sorotan publik setelah mengunggah sebuah poster berisi kritik terhadap Presiden Indonesia di media sosial. Poster tersebut memuat frasa “Presiden Pakak”, yang kemudian memicu berbagai respons dari masyarakat.

 

Unggahan tersebut turut mendapat tanggapan dari Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, H. Andre Rosiade, SE. yang menyampaikan komentarnya melalui media sosial. Menanggapi hal itu, pihak BEM KM UNAND memberikan klarifikasi dan sanggahan terkait maksud unggahan tersebut.

 

Perdebatan yang terjadi di ruang publik kemudian berlanjut dengan rencana kegiatan diskusi intelektual terbuka di lingkungan Universitas Andalas. Andre menyatakan akan hadir dalam diskusi tersebut untuk menyampaikan pandangannya secara langsung. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 09/03/2026, dengan melibatkan berbagai pihak sebagai upaya menanggapi perkembangan isu.

 

Ia menyatakan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang sah dalam sistem demokrasi. Namun demikian, kritik tersebut menurutnya perlu disampaikan secara objektif, berimbang, serta memperhatikan etika dalam penyampaian ketika di ruang publik.

“Kritik terhadap pemerintah itu sah dalam demokrasi. Silahkan saja, tetapi harus disampaikan secara objektif dan dengan cara yang beradab” Ujar Andre Rosiade.

 

Selain itu, Andre juga menyinggung sejumlah kondisi di Sumatera Barat. Ia menyampaikan keinginannya untuk turut mendengar pandangan BEM KM UNAND terkait berbagai isu di daerah tersebut, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, infrastruktur, hingga persoalan sosial lainnya.

 

Dalam diskusi tersebut, salah satu panelis, Dr. Indah Adi Putri, S.IP., M.IP. menyoroti pentingnya peran kepemimpinan dalam mengelola berbagai aspirasi yang muncul. Menurutnya, kepemimpinan harus hadir secara menyeluruh dalam sistem, mulai dari presiden sebagai simbol negara hingga lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. “Kita berada dalam satu sistem yang saling berkaitan. Jika ada bagian yang tidak berjalan dengan baik, maka kinerja sistem akan tersendat. Karena itu, diperlukan pendekatan yang holistik. Harapannya, aspirasi mahasiswa dapat ditampung secara lebih bijaksana melalui komunikasi yang konstruktif,” tambahnya.

Suasana di luar sekretariat BEM KM UNAND juga tidak kalah ricuh dan penuh perdebatan. Pasalnya, banyak dari para mahasiswa yang mengeluh tidak dapat masuk ke dalam ruangan akibat ukuran sekretariat yang terbatas. Para mahasiswa menyampaikan seharusnya diskusi terbuka dapat dilakukan di lokasi yang dapat memadai untuk massa yang besar. Menurut Ketua Umum DPM KM FEB UNAND, M. Aqib Warman, “Disini kita adalah ruang bagi mahasiswa Universitas Andalas, tapi mahasiswa Universitas Andalas sendiri pun tidak mendapatkan kesempatan yang sama didapatkan oleh kampus-kampus lain disini”. Hal ini menjadi evaluasi besar untuk BEM KM UNAND kedepannya untuk memilih lokasi yang tepat dalam mengadakan diskusi terbuka dengan para tokoh politik. Selain itu, harapnya BEM KM UNAND dapat mewadahi KM UNAND lainnya, tidak hanya sekedar melakukan diplomasi dengan kampus-kampus lain. Namun, memang mewadahi mahasiswa Universitas Andalas dalam ruang Universitas Andalas.

 

Reporter:

An-Nisa Salsabila, Inaya Nadira S, dan Izzah Khairunnisa

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama