PUISI/SAJAK
Senja
yang Tak Sama Lagi
Oleh Nayla Ramadina
Ramadhan
di rumah
adalah
pelita kecil di senja hari,
cahayanya
jatuh lembut di meja makan,
menghangatkan
wajah-wajah yang duduk berdekatan.
Kami
berkumpul
bagai
burung yang tahu arah pulang,
menyambut
adzan
laksana
pintu yang terbuka menuju bahagia.
Di
langit yang berbeda,
waktu
berbuka terasa lebih panjang.
Diri
ini duduk sendiri,
perahu
kecil di laut yang tenang
namun
tanpa dermaga.
Sendok
dan piring saling bersentuhan,
gaungnya
mengisi ruang yang lapang,
sementara
rindu mengalir perlahan…
sungai
yang belum menemukan muara.
Kesepian
Ramadhan
menjadi
cermin yang bening.
Darinya
terlihat jelas:
keluarga
adalah udara…
nyaris
tak disadari ketika ada,
namun
tanpanya,
dada
belajar arti sesak.
CERPEN
Rumah
Nun Jauh Disana
Oleh Anonim
Langit senja di kota perantauan terlihat
indah, tetapi tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi Rafi. Dari jendela
kamar kosnya yang sempit, ia melihat cahaya matahari perlahan menghilang di
balik gedung-gedung tinggi. Suara kendaraan bersahut-sahutan di jalan, berbeda
sekali dengan suasana kampung halamannya yang tenang. Hari itu adalah hari
pertama Ramadhan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafi harus
menjalaninya jauh dari keluarga.
Biasanya, ketika Ramadhan datang, rumah
mereka selalu dipenuhi aroma masakan ibu sejak sore hari. Ada kolak pisang yang
manis, gorengan hangat, dan suara ibu yang memanggilnya dari dapur, “Rafi,
bantu ibu siapkan meja dulu.” Ayah biasanya duduk di ruang tamu sambil membaca
Al-Qur’an, sesekali mengingatkan waktu berbuka yang semakin dekat. Semua terasa
hangat, sederhana, tetapi penuh kebersamaan.
Namun sekarang, semuanya berbeda. Di kamar
kos yang hanya berisi tempat tidur kecil, meja belajar, dan lemari sederhana,
Rafi duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya. Ia baru saja selesai
menelpon ibunya. Di ujung telepon, ibunya berusaha terdengar ceria, menanyakan
apakah ia sudah menyiapkan makanan untuk berbuka. Ayahnya juga sempat menyapa,
memberi nasihat agar Rafi tetap menjaga kesehatan dan tidak melewatkan sahur.
“Iya Bu, Rafi baik-baik saja,” katanya
tadi, mencoba terdengar kuat.
Ketika adzan maghrib berkumandang dari
masjid dekat kosnya, Rafi membuka kotak nasi sederhana yang ia beli dari warung
tadi sore. Hanya ada nasi putih, telur goreng, dan sedikit sayur. Ia tersenyum
kecil, mencoba bersyukur. Tetapi tanpa ia sadari, matanya mulai terasa panas, hatinya
terasa kosong. Di rumah, saat adzan maghrib tiba, mereka selalu berbuka
bersama. Ibu akan mempersilakan semua duduk di meja, ayah memimpin doa, lalu
mereka makan sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari.
Kadang mereka tertawa bersama, kadang hanya menikmati keheningan yang nyaman.
Di perantauan, berbuka terasa berbeda.
Tidak ada suara ibu di dapur. Tidak ada
ayah yang mengingatkan untuk makan pelan-pelan. Tidak ada adik yang bercanda
sambil berebut gorengan. Yang ada hanya Rafi, kamar kosnya, dan suara adzan
yang menggema dari kejauhan.
Ia menggigit sedikit makanannya, tetapi
rasanya hambar. Bukan karena masakannya buruk, melainkan karena ia sadar bahwa
jarak bisa membuat sesuatu yang sederhana terasa sangat berarti. Hal-hal yang
dulu ia anggap biasa saja kini justru paling ia rindukan.
Setelah berbuka, Rafi berjalan menuju
masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Di dalam masjid, banyak orang
berkumpul, tetapi entah mengapa ia tetap merasa sendirian. Ia melihat beberapa
keluarga datang bersama: ayah, ibu, dan anak-anak yang berjalan berdampingan.
Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak oleh rindu.
Selesai shalat, ia duduk sebentar di teras
masjid. Angin malam berhembus pelan, membawa ketenangan yang perlahan meredakan
kesedihannya. Rafi mengeluarkan ponselnya dan melihat foto keluarganya di
layar. Foto itu diambil saat Ramadhan tahun lalu, ketika mereka semua tersenyum
bersama di ruang makan.
Menjadi anak rantau memang tidak mudah.
Ada mimpi yang harus dikejar, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, dan ada
jarak yang harus diterima. Tetapi di balik semua itu, ada rindu yang selalu
diam-diam tinggal di hati.
Rafi menatap langit malam yang penuh
bintang dan berbisik pelan, seolah keluarganya bisa mendengar dari jauh. “Ramadhan
ini memang jauh dari rumah… tapi semoga semua perjuangan ini bisa membuat ibu
dan ayah bangga.”
Dan di tengah kesunyian kota perantauan
itu, Rafi belajar satu hal bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi
juga tempat yang selalu hidup di dalam hati, ke mana pun langkah seseorang
pergi.

Posting Komentar