RASA FKM 01: Keluarga Dikala Bulan Suci Puasa

 

PUISI/SAJAK

Senja yang Tak Sama Lagi

Oleh Nayla Ramadina

 

Ramadhan di rumah

adalah pelita kecil di senja hari,

cahayanya jatuh lembut di meja makan,

menghangatkan wajah-wajah yang duduk berdekatan.

Kami berkumpul

bagai burung yang tahu arah pulang,

menyambut adzan

laksana pintu yang terbuka menuju bahagia.

 

Di langit yang berbeda,

waktu berbuka terasa lebih panjang.

Diri ini duduk sendiri,

perahu kecil di laut yang tenang

namun tanpa dermaga.

Sendok dan piring saling bersentuhan,

gaungnya mengisi ruang yang lapang,

sementara rindu mengalir perlahan…

sungai yang belum menemukan muara.

 

Kesepian Ramadhan

menjadi cermin yang bening.

Darinya terlihat jelas:

keluarga adalah udara…

nyaris tak disadari ketika ada,

namun tanpanya,

dada belajar arti sesak.


CERPEN

Rumah Nun Jauh Disana

Oleh Anonim

Langit senja di kota perantauan terlihat indah, tetapi tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi Rafi. Dari jendela kamar kosnya yang sempit, ia melihat cahaya matahari perlahan menghilang di balik gedung-gedung tinggi. Suara kendaraan bersahut-sahutan di jalan, berbeda sekali dengan suasana kampung halamannya yang tenang. Hari itu adalah hari pertama Ramadhan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafi harus menjalaninya jauh dari keluarga.

Biasanya, ketika Ramadhan datang, rumah mereka selalu dipenuhi aroma masakan ibu sejak sore hari. Ada kolak pisang yang manis, gorengan hangat, dan suara ibu yang memanggilnya dari dapur, “Rafi, bantu ibu siapkan meja dulu.” Ayah biasanya duduk di ruang tamu sambil membaca Al-Qur’an, sesekali mengingatkan waktu berbuka yang semakin dekat. Semua terasa hangat, sederhana, tetapi penuh kebersamaan.

Namun sekarang, semuanya berbeda. Di kamar kos yang hanya berisi tempat tidur kecil, meja belajar, dan lemari sederhana, Rafi duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya. Ia baru saja selesai menelpon ibunya. Di ujung telepon, ibunya berusaha terdengar ceria, menanyakan apakah ia sudah menyiapkan makanan untuk berbuka. Ayahnya juga sempat menyapa, memberi nasihat agar Rafi tetap menjaga kesehatan dan tidak melewatkan sahur.

“Iya Bu, Rafi baik-baik saja,” katanya tadi, mencoba terdengar kuat.

Ketika adzan maghrib berkumandang dari masjid dekat kosnya, Rafi membuka kotak nasi sederhana yang ia beli dari warung tadi sore. Hanya ada nasi putih, telur goreng, dan sedikit sayur. Ia tersenyum kecil, mencoba bersyukur. Tetapi tanpa ia sadari, matanya mulai terasa panas, hatinya terasa kosong. Di rumah, saat adzan maghrib tiba, mereka selalu berbuka bersama. Ibu akan mempersilakan semua duduk di meja, ayah memimpin doa, lalu mereka makan sambil bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari. Kadang mereka tertawa bersama, kadang hanya menikmati keheningan yang nyaman.

Di perantauan, berbuka terasa berbeda.

Tidak ada suara ibu di dapur. Tidak ada ayah yang mengingatkan untuk makan pelan-pelan. Tidak ada adik yang bercanda sambil berebut gorengan. Yang ada hanya Rafi, kamar kosnya, dan suara adzan yang menggema dari kejauhan.

Ia menggigit sedikit makanannya, tetapi rasanya hambar. Bukan karena masakannya buruk, melainkan karena ia sadar bahwa jarak bisa membuat sesuatu yang sederhana terasa sangat berarti. Hal-hal yang dulu ia anggap biasa saja kini justru paling ia rindukan.

Setelah berbuka, Rafi berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Di dalam masjid, banyak orang berkumpul, tetapi entah mengapa ia tetap merasa sendirian. Ia melihat beberapa keluarga datang bersama: ayah, ibu, dan anak-anak yang berjalan berdampingan. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak oleh rindu.

Selesai shalat, ia duduk sebentar di teras masjid. Angin malam berhembus pelan, membawa ketenangan yang perlahan meredakan kesedihannya. Rafi mengeluarkan ponselnya dan melihat foto keluarganya di layar. Foto itu diambil saat Ramadhan tahun lalu, ketika mereka semua tersenyum bersama di ruang makan.

Menjadi anak rantau memang tidak mudah. Ada mimpi yang harus dikejar, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, dan ada jarak yang harus diterima. Tetapi di balik semua itu, ada rindu yang selalu diam-diam tinggal di hati.

Rafi menatap langit malam yang penuh bintang dan berbisik pelan, seolah keluarganya bisa mendengar dari jauh. “Ramadhan ini memang jauh dari rumah… tapi semoga semua perjuangan ini bisa membuat ibu dan ayah bangga.”

Dan di tengah kesunyian kota perantauan itu, Rafi belajar satu hal bahwa rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga tempat yang selalu hidup di dalam hati, ke mana pun langkah seseorang pergi.

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama