PUISI/SAJAK
Senja Di Meja Ramadhan
Oleh Nazwa Wandira
Di ujung langit jingga,
Magrib menyapa dengan
damainya.
Adzan berbisik lembut,
Menghantarkan sebuah
penanda,
Menghadirkan senyuman tulus
yang bahagia.
Meja penuh dengan doa.
Kursi menjadi saksi anggota
yang ada.
Kursi kosong pun menetap
disana.
Mungkin rasa tak sama
dengan puasa sebelumnya,
Namun kami tetap bersyukur
dengan apa yang ada.
Inilah kehangatan yang
nyata,
Berharap ramadhan bisa
berjalan lebih lama,
Menghadirkan lebih banyak
kehangatan di meja keluarga.
Ramadan mengajarkan arti
pulang,
Bahwa rumah bukan sekadar
ruang.
Ia adalah pelukan yang tak
terlihat,
Tempat doa-doa diam-diam
tersemat.
Semoga selepas bulan penuh
berkah ini,
Hati kami tetap saling
mengerti.
Karena keluarga di bulan
suci,
Adalah nikmat yang tak
terganti.
Puisi
2:
Sahur di Hening Fajar
Oleh Nazwa Wandira
Di
kala fajar masih malu menyapa,
Kami
terbangun oleh suara.
Aroma
nasi menari di udara,
Membawa
ketenangan yang damba.
Lampu
ruang menyala hangat,
Menghantarkan
nyaman yang menetap.
Percakapan
hangat tetap melekat,
Meskipun
dengan bisik lirih yang kadang tak terlihat.
Mata
yang tak sepenuhnya terbuka,
Tak
melunturkan niat yang nyata.
Rasa
syukur tetap ada di meja,
Menghantar
getaran jiwa yang ada.
PANTUN
Ngabuburit
mencari kelapa
Kelapanya
segar penghilang dahaga
Sahur
berbuka bersama keluarga
Bahagianya
hati tiada terkira
SENANDIKA
Senandika
1:
Rindu yang Datang Saat Ramadan
Ramadan selalu membawa
perasaan yang berbeda. Ada ketenangan, ada harapan, juga ada rindu yang kadang
datang diam-diam.
Rindu pada kebiasaan kecil
di rumah, suara ibu yang memanggil untuk sahur, ayah yang selalu memastikan
semua orang sudah bangun, atau obrolan ringan setelah berbuka yang terasa
begitu hangat.
Semakin aku bertambah usia,
semakin aku sadar bahwa momen-momen itu tidak selalu bisa terulang persis sama.
Waktu berjalan, keadaan berubah, dan kita perlahan belajar menghargai setiap
detik kebersamaan.
Mungkin itulah makna
Ramadan bagi keluarga, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga
mengingatkan kita bahwa cinta di rumah adalah kekuatan yang membuat segalanya
terasa lebih ringan.
Senandika
2:
Rumah Saat Ramadan
Ramadan selalu punya cara
sendiri untuk membuatku rindu rumah. Rindu suara ibu yang memanggil dari dapur
menjelang magrib, rindu aroma masakan yang perlahan memenuhi rumah, dan rindu
kebersamaan sederhana saat kami duduk melingkar menunggu azan berkumandang.
Di bulan ini, rumah terasa
lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena makanan yang tersaji di meja,
tapi karena doa-doa yang diam-diam dipanjatkan untuk satu sama lain.
Aku sering berpikir,
mungkin kebahagiaan memang sesederhana itu. Duduk bersama keluarga, berbuka
dengan apa yang ada, lalu saling bertanya tentang hari yang telah dilalui.
Ramadan mengingatkanku
bahwa keluarga bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat di mana hati
selalu merasa cukup.
QUOTES
Quotes
1:
“Rumah pulang yang paling
tenang adalah keluarga. Merantau kemana mana apalagi dibulan puasa tetap tempat
pulang ternyaman adalah kebersamaan dan cinta keluarga
Quotes 2:
“Rumah di bulan Ramadan
bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat doa dan cinta keluarga bersatu dengan
kekal.”
CERPEN
Hangatnya Kebersamaan di Bulan Suci
Oleh Mutia Anggina Chanda
Bulan Ramadhan selalu menjadi waktu yang
paling ditunggu oleh keluarga Rina. Setiap tahun, suasana rumah mereka terasa
berbeda ketika bulan suci itu tiba. Pagi hari terasa lebih tenang, lantunan
adzan terdengar lebih merdu, dan seluruh anggota keluarga berusaha menjalankan
ibadah dengan lebih khusyuk.
Pada suatu pagi di bulan Ramadhan, Rina
terbangun lebih awal karena mendengar suara ibunya yang sedang menyiapkan
makanan sahur di dapur. Aroma nasi hangat dan telur goreng perlahan menyebar ke
seluruh rumah. Rina pun segera bangun dan berjalan ke dapur untuk membantu
ibunya.
“Ibu, biar Rina yang menyiapkan
piringnya,” ujar Rina sambil mengambil beberapa piring dari lemari.
Ibunya tersenyum melihat semangat Rina.
“Terima kasih, Nak. Kalau kita saling membantu, pekerjaan akan terasa lebih
ringan,” jawabnya dengan lembut.
Tidak lama kemudian, ayah dan adik Rina
juga bangun untuk sahur bersama. Mereka duduk di meja makan dengan wajah yang
masih terlihat mengantuk, tetapi suasana tetap terasa hangat. Sesekali mereka
bercanda ringan sambil menikmati makanan sahur.
Setelah selesai makan, mereka melaksanakan
salat Subuh bersama di ruang keluarga. Momen seperti ini jarang terjadi pada
hari-hari biasa karena kesibukan masing-masing. Namun saat Ramadhan, keluarga
mereka selalu berusaha meluangkan waktu untuk beribadah bersama.
Hari itu Rina menjalani aktivitasnya
seperti biasanya. Ia membantu ibunya membersihkan rumah, lalu melanjutkan
dengan membaca buku dan mengerjakan tugas sekolah. Meskipun sedang berpuasa dan
menahan rasa lapar serta haus, Rina tetap berusaha menjalani hari dengan penuh
semangat.
Menjelang sore, Rina kembali membantu
ibunya di dapur untuk menyiapkan hidangan berbuka. Ibunya memasak sayur sop,
sementara Rina menyiapkan kolak pisang dan memotong beberapa buah untuk
disajikan.
“Rina, tolong siapkan gelas untuk minum,”
kata ibunya.
“Baik, Bu,” jawab Rina sambil segera
menata gelas di meja makan.
Sementara itu, ayah duduk di ruang tamu
sambil membaca Al-Qur’an, dan adik Rina membantu menyusun sendok di atas meja
makan. Walaupun sederhana, setiap anggota keluarga berusaha mengambil bagian
dalam persiapan berbuka puasa.
Harumnya masakan yang tercium membuat Rina
semakin menantikan waktu berbuka. Sesekali ia melirik jam dinding, berharap
waktu maghrib segera tiba.
Tak lama kemudian, suara adzan maghrib
akhirnya berkumandang dari masjid yang berada tidak jauh dari rumah mereka.
“Alhamdulillah, akhirnya waktunya
berbuka,” ucap ayah dengan penuh rasa syukur.
Mereka pun memulai berbuka puasa dengan
kurma dan segelas air putih. Setelah itu, mereka menikmati hidangan yang telah
disiapkan bersama. Suasana makan malam terasa sangat menyenangkan karena mereka
saling berbagi cerita tentang kegiatan yang dilakukan sepanjang hari.
Ayah menceritakan pengalamannya di tempat
kerja, sedangkan adik Rina dengan semangat bercerita tentang permainan yang ia
lakukan bersama teman-temannya. Tawa kecil pun sesekali terdengar di antara
mereka.
Bagi Rina, momen seperti ini sangat
berarti. Meskipun makanan yang disajikan tidak mewah, kebersamaan dengan
keluarga membuat semuanya terasa istimewa.
Setelah selesai makan dan beristirahat
sebentar, keluarga Rina bersiap untuk pergi ke masjid guna melaksanakan salat
tarawih. Malam itu, jalan menuju masjid terlihat ramai oleh warga yang berjalan
bersama keluarga mereka. Di dalam
masjid, suasana terasa tenang dan penuh kekhusyukan. Rina mengikuti salat
tarawih dengan khidmat dan merasakan ketenangan di dalam hatinya. Dalam perjalanan pulang, Rina berjalan di samping ayah dan ibunya. Ia
tersenyum sambil memikirkan betapa indahnya suasana Ramadhan.
Saat itu Rina menyadari bahwa Ramadhan
bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, bulan suci ini
mengajarkan tentang kesabaran, rasa syukur, dan pentingnya menjaga kebersamaan
dengan keluarga.
Sesampainya di rumah, Rina merasa sangat
bersyukur memiliki keluarga yang selalu saling mendukung dan menyayangi.
Baginya, kebersamaan sederhana di bulan Ramadhan merupakan kebahagiaan yang
tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Sejak saat itu, Rina berjanji pada dirinya
sendiri untuk selalu menghargai setiap momen kebersamaan dengan keluarganya,
terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Posting Komentar