RASA 01: Keluarga Dikala Bulan Suci Puasa




PUISI/SAJAK

Senja Di Meja Ramadhan

Oleh Nazwa Wandira

Di ujung langit jingga,

Magrib menyapa dengan damainya.

Adzan berbisik lembut,

Menghantarkan sebuah penanda,

Menghadirkan senyuman tulus yang bahagia.

 

Meja penuh dengan doa.

Kursi menjadi saksi anggota yang ada.

Kursi kosong pun menetap disana.

Mungkin rasa tak sama dengan puasa sebelumnya,

Namun kami tetap bersyukur dengan apa yang ada.

 

Inilah kehangatan yang nyata,

Berharap ramadhan bisa berjalan lebih lama,

Menghadirkan lebih banyak kehangatan di meja keluarga.

 

Ramadan mengajarkan arti pulang,

Bahwa rumah bukan sekadar ruang.

Ia adalah pelukan yang tak terlihat,

Tempat doa-doa diam-diam tersemat.

 

Semoga selepas bulan penuh berkah ini,

Hati kami tetap saling mengerti.

Karena keluarga di bulan suci,

Adalah nikmat yang tak terganti.


Puisi 2:

Sahur di Hening Fajar

Oleh Nazwa Wandira

Di kala fajar masih malu menyapa,

Kami terbangun oleh suara.

Aroma nasi menari di udara,

Membawa ketenangan yang damba.

 

Lampu ruang menyala hangat,

Menghantarkan nyaman yang menetap.

Percakapan hangat tetap melekat,

Meskipun dengan bisik lirih yang kadang tak terlihat.

 

Mata yang tak sepenuhnya terbuka,

Tak melunturkan niat yang nyata.

Rasa syukur tetap ada di meja,

Menghantar getaran jiwa yang ada.

 

PANTUN

Oleh Nazwa Wandira

Ngabuburit mencari kelapa

Kelapanya segar penghilang dahaga

Sahur berbuka bersama keluarga

Bahagianya hati tiada terkira


SENANDIKA

Oleh Mutia Anggina Chanda

Senandika 1:

Rindu yang Datang Saat Ramadan

Ramadan selalu membawa perasaan yang berbeda. Ada ketenangan, ada harapan, juga ada rindu yang kadang datang diam-diam.

Rindu pada kebiasaan kecil di rumah, suara ibu yang memanggil untuk sahur, ayah yang selalu memastikan semua orang sudah bangun, atau obrolan ringan setelah berbuka yang terasa begitu hangat.

Semakin aku bertambah usia, semakin aku sadar bahwa momen-momen itu tidak selalu bisa terulang persis sama. Waktu berjalan, keadaan berubah, dan kita perlahan belajar menghargai setiap detik kebersamaan.

Mungkin itulah makna Ramadan bagi keluarga, bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengingatkan kita bahwa cinta di rumah adalah kekuatan yang membuat segalanya terasa lebih ringan.

 

Senandika 2:

Rumah Saat Ramadan

Ramadan selalu punya cara sendiri untuk membuatku rindu rumah. Rindu suara ibu yang memanggil dari dapur menjelang magrib, rindu aroma masakan yang perlahan memenuhi rumah, dan rindu kebersamaan sederhana saat kami duduk melingkar menunggu azan berkumandang.

Di bulan ini, rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya karena makanan yang tersaji di meja, tapi karena doa-doa yang diam-diam dipanjatkan untuk satu sama lain.

Aku sering berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana itu. Duduk bersama keluarga, berbuka dengan apa yang ada, lalu saling bertanya tentang hari yang telah dilalui.

Ramadan mengingatkanku bahwa keluarga bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat di mana hati selalu merasa cukup.


QUOTES

Oleh Aquila Suci Ramadhani

Quotes 1:

“Rumah pulang yang paling tenang adalah keluarga. Merantau kemana mana apalagi dibulan puasa tetap tempat pulang ternyaman adalah kebersamaan dan cinta keluarga

Quotes 2:

“Rumah di bulan Ramadan bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat doa dan cinta keluarga bersatu dengan kekal.”


CERPEN

Hangatnya Kebersamaan di Bulan Suci

Oleh Mutia Anggina Chanda

Bulan Ramadhan selalu menjadi waktu yang paling ditunggu oleh keluarga Rina. Setiap tahun, suasana rumah mereka terasa berbeda ketika bulan suci itu tiba. Pagi hari terasa lebih tenang, lantunan adzan terdengar lebih merdu, dan seluruh anggota keluarga berusaha menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk.

Pada suatu pagi di bulan Ramadhan, Rina terbangun lebih awal karena mendengar suara ibunya yang sedang menyiapkan makanan sahur di dapur. Aroma nasi hangat dan telur goreng perlahan menyebar ke seluruh rumah. Rina pun segera bangun dan berjalan ke dapur untuk membantu ibunya.

“Ibu, biar Rina yang menyiapkan piringnya,” ujar Rina sambil mengambil beberapa piring dari lemari.

Ibunya tersenyum melihat semangat Rina. “Terima kasih, Nak. Kalau kita saling membantu, pekerjaan akan terasa lebih ringan,” jawabnya dengan lembut.

Tidak lama kemudian, ayah dan adik Rina juga bangun untuk sahur bersama. Mereka duduk di meja makan dengan wajah yang masih terlihat mengantuk, tetapi suasana tetap terasa hangat. Sesekali mereka bercanda ringan sambil menikmati makanan sahur.

Setelah selesai makan, mereka melaksanakan salat Subuh bersama di ruang keluarga. Momen seperti ini jarang terjadi pada hari-hari biasa karena kesibukan masing-masing. Namun saat Ramadhan, keluarga mereka selalu berusaha meluangkan waktu untuk beribadah bersama.

Hari itu Rina menjalani aktivitasnya seperti biasanya. Ia membantu ibunya membersihkan rumah, lalu melanjutkan dengan membaca buku dan mengerjakan tugas sekolah. Meskipun sedang berpuasa dan menahan rasa lapar serta haus, Rina tetap berusaha menjalani hari dengan penuh semangat.

Menjelang sore, Rina kembali membantu ibunya di dapur untuk menyiapkan hidangan berbuka. Ibunya memasak sayur sop, sementara Rina menyiapkan kolak pisang dan memotong beberapa buah untuk disajikan.

“Rina, tolong siapkan gelas untuk minum,” kata ibunya.

“Baik, Bu,” jawab Rina sambil segera menata gelas di meja makan.

Sementara itu, ayah duduk di ruang tamu sambil membaca Al-Qur’an, dan adik Rina membantu menyusun sendok di atas meja makan. Walaupun sederhana, setiap anggota keluarga berusaha mengambil bagian dalam persiapan berbuka puasa.

Harumnya masakan yang tercium membuat Rina semakin menantikan waktu berbuka. Sesekali ia melirik jam dinding, berharap waktu maghrib segera tiba.

Tak lama kemudian, suara adzan maghrib akhirnya berkumandang dari masjid yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

“Alhamdulillah, akhirnya waktunya berbuka,” ucap ayah dengan penuh rasa syukur.

Mereka pun memulai berbuka puasa dengan kurma dan segelas air putih. Setelah itu, mereka menikmati hidangan yang telah disiapkan bersama. Suasana makan malam terasa sangat menyenangkan karena mereka saling berbagi cerita tentang kegiatan yang dilakukan sepanjang hari.

Ayah menceritakan pengalamannya di tempat kerja, sedangkan adik Rina dengan semangat bercerita tentang permainan yang ia lakukan bersama teman-temannya. Tawa kecil pun sesekali terdengar di antara mereka.

Bagi Rina, momen seperti ini sangat berarti. Meskipun makanan yang disajikan tidak mewah, kebersamaan dengan keluarga membuat semuanya terasa istimewa.

Setelah selesai makan dan beristirahat sebentar, keluarga Rina bersiap untuk pergi ke masjid guna melaksanakan salat tarawih. Malam itu, jalan menuju masjid terlihat ramai oleh warga yang berjalan bersama keluarga mereka. Di dalam masjid, suasana terasa tenang dan penuh kekhusyukan. Rina mengikuti salat tarawih dengan khidmat dan merasakan ketenangan di dalam hatinya. Dalam perjalanan pulang, Rina berjalan di samping ayah dan ibunya. Ia tersenyum sambil memikirkan betapa indahnya suasana Ramadhan.

Saat itu Rina menyadari bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, bulan suci ini mengajarkan tentang kesabaran, rasa syukur, dan pentingnya menjaga kebersamaan dengan keluarga.

Sesampainya di rumah, Rina merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu saling mendukung dan menyayangi. Baginya, kebersamaan sederhana di bulan Ramadhan merupakan kebahagiaan yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Sejak saat itu, Rina berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menghargai setiap momen kebersamaan dengan keluarganya, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah. 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama