RASA 17 : The Power of Believing



Puisi/Sajak

Keyakinan sebagai Senjata Hidup

Oleh Azizah Salsabil Burhan

Oh dunia penuh dengan luka dan duka

Dengan mereka yang tidak punya kekuatan

Kekuatan hanya pada yang berkuasa

Dengan pikiran yang penuh dosa

 

Di tengah lawan yang  mengganas, menerkam

Percayalah pada dirimu dengan melawannya

Melawan dengan tidak takut akan luka

Dengan keyakinan sebagai senjata, menjadi bukti nyata

 

Menghadapi tantangan, rintangan yang berliku

Keyakinanmu akan membawamu terus maju

Percayalah pada dirimu, terus berjuang

Karena kepercayaan dirimu, ada kemenangan yang nyata



Quotes

"Optimisme adalah keyakinan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan."

-Nadia Ayunda-


Senandika

Percaya

Oleh Fitri Aidina Ilhamy


Semua hanya butuh satu hal, yakni percaya. Percaya pada dirimu sendiri. Percaya hari esok lebih baik dari hari ini. Rasa percaya akan bawamu pada kemajuan. Rasa percaya akan bawamu maju, selangkah lebih ke depan.


Terang dalam Kelam

Oleh Naufal Eka Dhiarrahman


Ketika diri tersesat di kelamnya malam, ketika mata tak mampu lagi melihat, ketika tangan tak mampu lagi berbuat. Satu hal yang harus terpahat di benak, segelap apapun dunia, sesulit apapun labirin kehidupan. Yakin dan percayalah pertolongan dari Yang Maha Kuasa itu ada.


Yang Maha Kuasa selalu mendampingi kita, sekalipun diri-Nya tak kasat mata. Jadi, janganlah kau padamkan cahaya harapan di hati. Memohonlah kepada-Nya, mintalah petunjuk bagimu kepada-Nya. Bangkitlah dari keterpurukan dan jangan tinggalkan pelita ini bagimu di kelamnya malam.


Jiwa yang Tersesat

Oleh Naufal Eka Dhiarrahman


Dirinya terdiam, setetes air jatuh, air matanya menitih, terisak, meraung-raung. Baginya, cahaya terakhir di hidupnya telah raib, walau nyatanya tidaklah demikian. Pekak dirinya dari dunia, benaknya kacau, pandangannya pudar, tanpa keyakinan dan harapan. Ia telah lupa keberadaan Yang Maha Kuasa. Keberadaan Yang Maha Pengasih. 


Hatinya yang hancur bak disambar misil, jiwanya yang hampa tak lagi bercahaya kini tersesat. Kelam dunianya, putus asa miliknya. Dia mengutuk diri sendiri, menghukum dirinya sendiri, tanpa belas kasihan. Tanpa ada setitik rasa percaya dan harapan, tanpa ada rasa belas kasihan pada dirinya, dia pun melewati batas, jatuh ke dalam jurang, hancur dalam kelamnya malam.


Cerpen

Apapun Itu, Tetaplah Percaya Pada Dirimu

Oleh Atina Rizki


Dikala matahari mulai menampakkan sedikit cahayanya, yang tanpa sadar mengusik tidur seorang gadis remaja. Tubuhnya mulai menggeliat di atas kasur dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Dia adalah Zaiba Almira, biasa dipanggil Ira, remaja yang tahun ini sudah menduduki bangku kelas 12 SMA. Disekolahnya, Ira adalah salah satu siswa beruntung yang mendapatkan beasiswa. Sekolah Ira merupakan salah satu sekolah bergengsi yang ada di kotanya. Ira memang lahir dari keluarga yang sederhana, dia tinggal bersama ibu dan ayahnya yang hanya bekerja serabutan.


“Semoga hari ini berjalan dengan indah,” ucapnya, sambil mematut diri dengan cermin yang ada di depannya.


Ira keluar dari kamarnya menuju dapur untuk berpamitan kepada sang ibu. Ayahnya sudah pergi sedari tadi untuk bekerja dengan menggunakan motor.


“Ibu, aku pamit berangkat sekolah dulu ya. Assalamualaikum, Bu,” pamit Ira pada ibunya sambil mencium tangan sang ibu.


“Wa’alaikumussalam, hati-hati ya, Nak,” jawab ibu.

***

Disinilah sekarang Ira berada, duduk di kelas memperhatikan guru yang sedang menerangkan. Tak lama bel berbunyi menandakan bahwa sudah memasuki jam istirahat.


“Baiklah anak-anak, sampai disini pertemuan kita pada hari ini dan ibu mengingatkan kembali mengenai pendaftaran tes kuliah sudah akan dimulai beberapa bulan lagi ya. Jangan lupa mempersiapkan diri kalian,” ucapnya. Bu guru yang mengajar di kelas Ira.


“Baik, Bu!” serentak seluruh siswa.


Ira termenung setelah mendengar ucapan sang guru, sebenarnya dia memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Namun, mengingat kondisi perekonomian keluarganya dan rasa tidak percaya diri akan kemampuannya sendiri membuat Ira masih ragu untuk meraih mimpi tersebut. Sebenarnya, Ira sudah pernah menceritakan mimpinya kepada ayah dan ibu. Keduanya sangat mendukung penuh mimpi Ira bahkan ayah bilang ia akan mencari bantuan kemanapun, asal mimpi Ira terwujud. Namun orang-orang di sekeliling Ira, seolah tak pernah membiarkan Ira untuk bermimpi. Tetangganya mencemooh mimpi Ira yang katanya terlalu tinggi untuk seorang anak perempuan yang ayahnya hanya pekerja serabutan. Tak hanya itu, teman-teman di kelas Ira juga ada beberapa yang mencemooh mimpinya ini, sehingga rasa percaya diri yang awalnya ada sekarang berubah dengan rasa ragu terhadap dirinya sendiri.


“Hei Ra, kamu kenapa melamun? Ayo, kamu mau ikut aku ke kantin gak?” Rani teman sebangku Ira menyadarkannya dari lamunan.


“Eh iya Ran, hm aku kayaknya ga ke kantin dulu deh Ran. Kamu duluan aja gapapa kok,” ucap Ira yang dibalas anggukan oleh Rani.


Bukan tanpa alasan Ira menolak ajakan Rani untuk ke kantin, Iraa berencana pergi ke ruang konseling untuk menceritakan kegelisahan yang dia rasakan mengenai pendaftaran kuliah. Entahlah, rasanya sekarang ia butuh kata-kata penguat dari guru BK nya dan solusi dari permasalahan yang dia alami mengenai biaya perkuliahan.


Sesampainya di depan ruang BK, Ira mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk ke dalam. Bu Riri, guru BK di sekolahnya menyambut Ira dengan senyum meneduhkan.  Setelah dipersilahkan duduk, Ira pun mulai mengutarakan tujuannya datang kepada Bu Riri. Semuanya mengalir begitu saja dari mulut Ira, tak ada rasa canggung untuk menceritakan masalahnya kepada Bu Riri, karena mereka memang sudah dekat dan sering berbincang bersama.


“Nak, tak ada salahnya untuk kamu bermimpi. Bahkan kamu bisa bermimpi setinggi apapun yang kamu inginkan. Ucapan orang-orang tak seharusnya menghambat mu untuk meraih mimpimu, namun jadikan itu sebagai penyemangat mu untuk meraih mimpi. Semua mimpi hanya akan bisa kita gapai, jika kita percaya dengan kemampuan dan usaha kita sendiri. Mengenai biaya untuk melanjutkan kuliah, kamu tak perlu khawatir. Sekarang sangat banyak beasiswa yang membantu anak-anak seperti kamu bahkan sampai akhir perkuliahan. Jadi tak ada hal yang harus kamu ragukan, kamu hanya perlu berusaha dan percaya dengan diri kamu sendiri.”


Bu Riri menatap Ira dengan senyum khasnya yang sangat menenangkan, “Tentunya, jangan lupa berdoa agar Tuhan memudahkan usahamu,” ucap Bu Riri sambil mencolek sedikit hidung Ira.


Semenjak hari dimana Ira menemui Bu Riri, ia mulai yakin dan semangat untuk mengejar mimpinya. Ira mulai mencari informasi mengenai ujian masuk perguruan tinggi, mencari informasi mengenai beasiswa dan tentunya mulai mempelajari materi-materi untuk mempersiapkan dirinya.

***

Hari pengumuman kelulusan …


Ira mengunci tatapannya pada jarum jam yang terus berjalan, ia sekarang sedang duduk di ruang tamu rumahnya sambil menunggu jam pengumuman kelulusan keluar. Tak bisa digambarkan bagaimana gugupnya Ira saat ini, takut rasanya saat memikirkan jika hasil yang keluar tidak sesuai dengan harapannya. Sang ibu dan ayah juga turut duduk di kiri dan kanan Ira dengan terus mengucapkan kalimat penenang untuk sang anak.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB yang berarti pengumuman sudah bisa di akses. Helaan napas Ira terdengar berat, dia berusaha menguatkan dirinya sebelum membuka website pengumuman.


tes tes tes …


Air mata Ira jatuh saat membaca setiap kalimat yang tertera di dalam HP nya. “SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS!” 


Tangis Ira dan kedua orang tuanya sama-sama pecah saat membaca kalimat tersebut. Tak bisa Ira gambarkan bagaimana bahagianya ia melihat kalimat tersebut. Ayah dan Ibu Ira memeluk erat anaknya itu sambil mengucapkan syukur.


“Terimakasih tuhan telah mewujudkan satu mimpiku, sekarang aku takkan berhenti untuk yakin dan percaya pada diriku sendiri serta setiap takdir yang telah engkau tuliskan untukku,” batin Ira, seraya terus mengembangkan senyum indahnya dalam pelukan ayah dan ibunya.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama