RASA 16 : Nasib dan Keberuntungan Itu, Apakah Bersebelahan?


Hari Pertama Bekerja

Oleh Dhea Amelia


Rina mematut diri pada cermin yang setinggi tubuhnya. Blouse merah muda dengan rok abu slit di bawah lutut menjadi pilihannya untuk bekerja di hari pertama. Rina memakai kalung salib sebagai aksesoris terakhirnya, tidak lupa kembali merapikan rambut hitam legam yang sudah ia sisir tadi. 


"Pakaianku tidak berlebihan kan?"


Setelah puas dengan penampilannya, Rina mengambil sepatu heels merah muda dari rak sepatu yang berada di sebelah lemari pakaiannya. Ia keluar lalu turun ke lantai satu untuk ikut sarapan bersama keluarga. 


"Aduh, anak gadis Ibu cantik banget hari ini!" seru Ibu Noni setelah melihat Rina. "Mba Ka cantik banget!" tambah seru Kavin, adik Rina. Rina duduk ke salah satu kursi ruang makan lalu tersenyum seraya menyibakkan rambut bangga. 


"Harus, dong! Namanya juga hari pertama kerja," balas Rina.


Katrina, atau biasa dipanggil Kat oleh keluarganya dan biasa dipanggil Rina oleh teman-temannya adalah anak pertama dari dua bersaudara keturunan Manado-Jawa. Seperti yang dikatakan Rina, hari ini menjadi hari pertama Rina bekerja. Setelah wisuda, ia mendapatkan panggilan untuk bekerja di bidang finance di salah satu perusahaan multinasional yang terletak di Surabaya, dekat kediamannya. Tidak hanya cantik, Rina juga pintar dalam akademik dan organisasi, ia sering mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi, baik dari dalam kampus dan luar kampus. Keaktifannya ini membuat Rina mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai pemagang pada saat kuliah di semester 6. Pengalaman magangnya selama 6 bulan kemarin membuatanya merasa siap untuk menghadapi hari pertama kerjanya saat ini.


"Semoga hari ini berjalan lancar."


***


Rina berusaha menahan segukan karena ia yakin bilik toilet kantor tidak akan bisa menahan suara tangisan. Hari pertama bekerja, tapi Rina sudah melakukan kesalahan. Laporan yang seharusnya ia berikan tepat waktu pada atasan divisnya, tapi ia salah melihat jadwal tenggat, Rina tidak sengaja memberikan laporan tersebut 1 jam lebih lama. Tidak terlalu fatal memang, tapi masalah ini membuat dia terkena omelan yang cukup menyakitkan dari atasan divisnya, Bu Meli. 


Bu Meli, wanita lajang berusia 35 tahun ini memang tegas, dia tidak segan-segan menegur bawahannya langsung di depan yang lain sehingga membuat beberapanya tidak tahan untuk bekerja di bawah kepemimpinannya. Pekerjaan yang dilakukan Bu Meli sangat bagus, namun Bu Meli terkenal dengan ketidak profesionalitasnya pada saat menghadapi masalah. Kejadian tadi membuat Rina bertanya-tanya, bagaimana Bu Meli mampu menjadi team leader untuk divisi tempat ia bekerja.


Hal yang membuat Rina semakin sedih pada saat kejadian tadi adalah ucapan tambahan yang dilontarkan oleh pegawai lainnya, membut kobaran api semakin membesar. Tentu saja Rina merasa bersalah atas kesalahannya, tapi ia juga merasa frustasi karena seharusnya ia tidak diperlakukan seperti itu.


***


Beberapa jam sebelumnya


Meli melempar laporan ke atas meja di hadapan Rina. "Apa-apaan ini! Saya sudah tunggu dari tadi tapi kenapa baru kasih ke saya sekarang?"


Rina tertunduk, kedua tangan yang tadi berpaut di depan perut semakin menguat karena sentakkan Bu Meli padanya, "Saya minta maaf, Bu. Ini kelalaian saya karena tidak melihat jam pengumpuan dengan baik," ucap Rina setengah mati ketakutan.


"Saya tahu kamu baru masuk hari ini. Tapi masa buat laporan aja bisa telat gini! Otak kamu dimana sih? Apa kamu cuma mengandalkan wajah kamu aja?”  


Rina mengerutkan alis, perkataan Bu Meli berlebihan. Menurutnya itu sudah di luar batas. Rina tahu bahwa wajahnya masuk ke standar kecantikan orang Indonesia, tapi perkataan Bu Meli rasanya tidak etis. Rasa ingin membela diri semakin membesar, namun ia berusaha untuk menahannya. Ini baru hari pertamanya bekerja, ia harus bekerja untuk membantu Ibunya yang merupakan single parent untuk membiayai Kavin yang baru masuk kuliah tahun ini.


”Keluar kamu!” usiran Bu Meli dituruti oleh Rina, walaupun hatinya juga ikut dongkol atas perkataan Bu Meli.  


Setelah keluar dari ruangan Bu Meli beberapa pegawai memandangnya penasaran dan ada juga memandangnya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan oleh Rina. Rina kemudian duduk di meja kubikelnya, kembali berusaha fokus pada pekerjaan meskipun perkataan dari Bu Meli masih membekas di hatinya.


”Pantesan diterima, ternyata ngandelin tampang aja,” sindir salah satu pegawai yang entah namanya siapa sembari lewat di depan kubikel Rina. Rina mengerutkan alisnya kembali rasa dongkolnya semakin membesar. Tidak lama, sindiran itu diikuti oleh tawa pegawai lainnya. Karena ini Rina berdiri, berencana menghampiri pegawai itu untuk bertanya apa maksud dari perkataannya.


Sebuah tangan menahan tubuhnya, ”Udah, biarin aja. Mulut mereka memang begitu, Lo cuma harus kerja di sini, Rin,” tahan Eva, orang yang pertama kali mengajak Rina berkenalan. Perkataan Eva memang ada betulnya, tapi Rina harus meredakan kekesalannya. Ia menepis tangan Eva pelan lalu pergi ke toilet. Air mata kekesalan yang sudah ia tahan sejak tadi harus dikeluarkan.


***


Sudah beberapa bulan Rina masih bertahan bekerja di kantornya sekarang. Meskipun banyak pegawai di divisinya yang merasa ia dapat bekerja karena faktor keberuntungan dari wajahnya, namun Rina membuktikannya dengan performa kerjanya. Meskipun belum genap setahun, namun Rina sudah direkrut menjadi anggota tim khusus yang dibuat oleh Chief Financial Officer. Tentu saja hal ini membuat rekan kerja di divisi Finance sebelumnya semakin kepanasan, khususnya Bu Meli yang sudah beberapa tahun bekerja, namun masih stuck menjabat sebagai Team Leader. 


Rina mengakui bahwa ia mendapatkan keberuntungan, namun segala keberuntungan ini yang menentukan apakah ia menjadi nasib baik atau buruk adalah Rina sendiri. Sehingga ia harus lebih fokus dengan bagaimana cara meningkatkan value-nya agar bisa pantas mendapatkan posisinya saat ini dan agar karirnya bisa semakin naik untuk ke depannya.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama