RASA 15

Tema  : Bertemu Untuk Berpisah

 

QUOTES

 

“Jarak sebenarnya tak pernah ada, karena pertemanan dan perpisahan lahir dari sebuah perasaan”

-Nabila Alkhoiriah-

 

“Tetaplah disini bersamaku. Yang berharga dan begitu berharga. Karena akan ada banyak lembaran baru, cerita baru dan kebahagiaan baru saat bersamamu”

-Meina Lisa-

 

“Berbahagialah dengan sebuah pertemuan, karena tentunya ada orang baru, yang Tuhan hadiahkan. Namun ingat jangan benci dengan perpisahan, dia ada bukan semata-mata menimbulkan kesedihan, tapi menyadarkan kita, betapa berharganya waktu, disaat ada kebersamaan dalam suatu pertemuan”

-Salsabila-

 

SENANDIKA

 

 

“Hai, bagaimana kabarmu? Setelah sekian purnama kau menghilang, lalu kau kini datang. Entah dorongan apa yang membawamu kembali. Kau bahkan datang seakan tak ada beban yang kau pikul. Jujur, aku terheran. Aku hanya bisa diam seribu bahasa, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Lalu kau mencoba memohon pengampunan. Namun, maaf. Aku terlanjur kecewa. Semoga ini menjadi terakhir kalinya pertemuan kita”

-Muhammad Farras Rinaldy-

 

“Langkah kita tak lagi searah, kau pergi ke timur sedang aku menuju barat, tak pernah lagi bertemu berpisah karena permainan takdir. Sinar matahari telah hilang dari pandangan mata, merubah suka menjadi derita qalbu. Menghasut cerah menjadi kelabu. Gelap tak terbaca. Tiba saat sinar mentari mulai menguning, teriknya tak lagi menyengat kulit. Menandakan masanya kita harus berpisah. Diujung waktu kebersamaan, aku masih menantikan obrolan yang mungkin bisa tercipta. Ternyata semua hanya angan belaka, karena kau masih saja bungkam. Akupun jadi tak berani memulai kata. Semua pasti berubah, mau tidak mau semua pasti berpisah, ingin tidak ingin semua pasti berakhir, siap tidak siap. Mungkin memang benar kau bukan jodoh yang dipilihkan Tuhan untukku. Cukup sampai di sini kisah kita tertulis, akan kututup lembaran ini. Selamat tinggal, tuan yang pernah singgah untuk pergi. Akan kuobati luka dan dan jaga hati untuk seseorang yang menjadi takdirku nanti. Jika perpisahn itu ialah kenyataan yang sulit diteri, namun itu adalah konsekuensi dari pertemuan”

-Niatul Aini Hendri-

 

“Awal bahagia saat ku bertemu denganmu. Ku kira semua akan terasa indah jika dirimu selalu ada untukku. Semakin lama semakin susah untuk lepaskan segalanya. Tentang diriku, tentang dirimu dan tentang kita. Semua terangkai bagai alunan kisah yang sempurna. Andai ku tahu bahwa hal ini hanyalah jebakan belaka. Jebakan yang membuatku berpikir bahwa kau tetap ada selamanya menemani. Hadir mu bagaikan hembusan angin , datang dan pergi sesuka hati”

-Siti Rahmawati Ayunda-

 

PUISI

 

Dialog Terakhir

Karya : Gabriella Tessalonika

 

Berpisah apakah sesakit itu?

Menarik diri dari sesaknya perpisahan

Menguras emosi dan menusuk tulang tanpa menyentuh

Mengapa harus bertemu jikalau harus berpisah?

 

Tak terlepas ingatanku terhadap bayang itu

Kenangan yang menari di kala sepi

Cakap insan lainnya, rindu kenangannya bukan orangnya

Namun percayalah hati, sungguh aku rindu

 

Ah, aku benci pertemuan

Tak terpikir dunia ini ada hak memisahkan

Imajinasi telah menghanyutkan

Kenangan bersamamu tak tergantikan

 

Pikirku denganmu ku tenang

Pikirku kau tempat teduhku di dunia ini

Namun dialog terakhir kemarin itu

Ku tak berhak lagi bersamamu

 

 

Hilang dan Pergi

Karya : Putri Rahmadani

 

 

Dalam kesendirian

Terlukis raut wajah penyesalan

Melihat wajah murung saat itu

Tak kusangka semuanya hilang

 

Terdiam aku dalam sepi

Menatap langit-langit kelam tanpa arti

Terhempas jauh dari alam ini

Lalu menghilang dan pergi

 

Kisah yang hilang ntah kenapa

Kuharap kau sama

Juga merasa

Temuku

Karya : Raisha Arruya Putri

 

Malam yang sunyi sepertinya enggan membuka suara

Aku yang duduk dilamunanku yang kian merajalela

Entah apa entah siapa entah dimana entah kapan entah mengapa aku memikirkan hal yang sangat mustahil untuk terjadi

Mustahil? Bisa berharap apa terhadap hal memang jauh dari kata nyata

Di kamar ini aku hanya bisa berharap lamunanku menjadi kenyataan

Temuku menjadi Aamiin sepanjang hayat

 

CERPEN

 

Pertemuan Singkat

Karya : Caroline Anggia

 

Hasil tes pemeriksaan akhirnya keluar. Seluruh tubuh rasanya menggelontor bak jatuh dari ketinggian. Aku berharap bahwa sakit kepala dan rasa kebas pada pergelangan tanganku bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Sembari menyusuri lorong rumah sakit, aku membuka amplop demi amplop hasil tes itu. Berharap doa yang selama ini kupanjatkan terkabul.

“Apa ini?” kataku dalam hati. Saat itu rasanya seperti adalah hari terakhir aku di dunia. Penuh tanda tanya dan kebimbangan aku mendapati bahwa hasil menunjukkan aku mengidap kanker otak stadium 3. Pandanganku seketika kabur, dan semuanya gelap seketika.

Sayup-sayup terdengar lirih suara khalayak dari kejauhan. “Mba, udah enakan?” kata salah seorang laki-laki yang terdengar dari samping. Aku yang dibangunkan oleh sinar lampu neon seketika kaget dan langsung mencoba bangkit dari tempat tidur. Aku mulai memandang sekitar, dan aku tersadar aku berada di ruangan UGD rumah sakit.

“Gimana, Mbak? Udah enakan?” kata laki-laki disampingku.

“Udah, Mas.” jawabku lirih.  

“Tadi Mbaknya pingsan di lorong laboratorium. Lalu akhirnya saya minta tolong petugas kesehatan antar Mbak ke UGD. Maaf ya Mbak sebelumnya kalau saya lancang.” kata lelaki itu menjelaskan.

“Eh, gausah minta maaf, Mas. Justru saya harus terima kasih karena sudah ditolong dan dibawa kesini. Makasih banyak sekali lagi, Mas.

“Sama-sama, Mbak. Oh iya perkenalkan saya Adhit, kebetulan saya juga pasien tetap disini. Kalau Mbak namanya siapa?” Ujar Adhit, laki-laki kurus tinggi dan berparas pucat.

“Nama saya Nouvita, Mas. Kebetulan saya pasien baru disini. Timpalku.

“Tadi kata dokter yang mengangani, Mbak ada trauma kepala makanya tak tungguin disini takut ada apa-apa.” Tanya adhit.

“Iya mas, hari ini saya divonis mengidap kanker otak stadium 4. Mungkin karena terlalu shock sampai harus pingsan.” ujarku berusahan menahan air mata.

“Astaga, cepat sembuh ya, Mbak. Saya yakin Mbak pasti sembuh jika ikhlas melakukan pengobatan. Saya doakan yang terbaik untuk Mbak.” Ujar Adhit menghibur.

“Makasih banyak mas doanya.” ujarku sembari mecoba turun dari tempat tidur “Mas juga semoga cepat sembuh ya”. Tambahku.

Beberapa saat sesudah kami berbincang, Adhit akhirnya memutuskan untuk pulang karena ada hal mendesak yang harus dikerjakan.

“Mbak saya pamit pulang dulu, nggih ada keperluan. Ujar Adhit terlihat buru-buru.

“Iya, Mas Adhit makasih banyak ya, Mas. Hati-hati di jalan” ujar ku seraya menjabat tangannya.

Adhit tersenyum lirih ke arahku seraya meninggalkan ruangan.

Tak ku sangka, itu adalah senyuman terakhirnya untukku. Beberapa saat setelah aku meninggalkan ruangan, Adhit ditemukan tewas tertabrak sepeda motor di depan jalan raya rumah sakit yang diduga merupakan percobaan bunuh diri. Ternyata Adhit adalah seorang pasien anxiety disorder dan bipolar disorder yang sudah 5 tahun menjalani pengobatan ke psikiater. Andai aku lebih bertanya perihal apa yang ia rasakan, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Mungkin saat ini Adhit masih konsisten menjalani pengobatannya. Tapi apa daya, ternyata pertemuan singkat itu hanya berbuah perpisahan. Pertemuan itu memberikan arti padaku bahwa tidak selamanya yang terlihat baik-baik saja memang demikian. Sebab, hanya manusia dan isi kepalanya yang mampu menyelaminya.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama