RASA 12

Tema  : 77 Tahunnya Indonesia

 

PUISI

Kemerdekaan

Karya: Mirqi Rahmiani Yasra

77..

Angka yang biasa

Namun sangat bermakna

 

77 tahun sudah

Kemerdekaan diraih

Dengan pertumpahan darah

Dengan cucuran keringat

Dengan berbagai pengorbanan

Demi sebuah kemerdekaan

 

Agustus menyapa

Sorak berkumandang

Dengan gagah gempita

Untuk 77 tahun Indonesia merdeka

Merdeka, merdekalah bangsaku

Merdeka

Merdeka

 

Dirgahayu Republik Indonesia

Karya : Anilsi Ansari

 

77 Tahun yang lalu telah bergema pekik

Medeka, bergema, Berkumandang, keseluruh dunia

Suka duka perjuangan bangsa

Berbuah nyata

 

Kita sadar sebagai bangsa Indonesia

Penerus pemandu tongkat

Perjuangan bangsa ini

 

Mari kita jaga ibu pertiwi

Kita jaga Republik Indonesia ini

Kita junjung martabat negeri

Dirgahayu bangsa Indonesia

 

Yang ke 77 tahun ini

Nyalakan terus semangat 45

Sekali merdeka tetap merdeka

 

Perjuangan Kemerdekaan

Karya : Annisa Fadila Gusman


Indonesia adalah negara yang makmur, kaya
Negara yang penuh dengan budaya
Negara yang selalu subur, jaya
Di sepanjang masa, di setiap generasinya

Tersilap kisah di balik itu semua
Masa kelam dengan sejarah penjajahan
Tak pernah bisa tertutupi
Perjuangan para pahlawan
Tak pernah bisa dibayar dan dilupakan dalam memori

Pertumbahan darah
Tekad yang kuat
Menjadi saksi bisu kemerdekaan

17 Agustus 1945
Itulah hari kemerdekaan

Itulah hari kelahiran Indonesia
Hari dimana Indonesia bahagia
Lepas tertawa dan lepas dari belenggu penjajahan
Merdeka!

 

QUOTES

“Sekali  merdeka. Itulah  Indonesia bangsa yang selamanya tetap merdeka!”

-Audia Ananda-

 

“Kian pedihnya jatuh bangun yang dirasa bangsa Indonesia telah menggambarkan begitu banyak nestapa yang dilalui para pahlawan dalam memperjuangkan kebebasan Indonesia. Kini, 77 tahun sudah buah kemenangan itu dilalui. 77 tahun sudah buah perjuangan dinikmati. Hidup Indonesia, Merdeka!”

-Hanifah Zahra-

 

“Indonesia telah berhasil merdeka dari para penjajah, karena sejatinya kemerdekaan hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang memiliki jiwa dan tekad kuat untuk merdeka, merdeka, merdeka!!!”

-Nada Rudia Putri-

 

“Menginjaknya Indonesia di umur yang ke-77 bukanlah hambatan bagi kaum muda untuk berjuang. Semakin tua Indonesia, semakin berat perjuangan. Semakin tua Indonesia, semakin membaranya api nasionalisme di jiwa kaum muda Indonesia.”

-Mutia Hasna Khairani-

 

SENANDIKA

Merah darahku adalah ungkapan bahwa semangat yang berkorbar tidak akan padam hingga tetesan darah terakhir, dan putih tulangku adalah mental baja yang tidak akan pernah pudar walau panasnya peluru menembus tubuh.

Jasa pahlawan, jasa penuh kenangan. Jasa yang tak akan mampu dibeli dengan harta,Jasa yang punya tujuan “Merdeka atau Mati”,Saudaraku, mari kita bangkit bersama.Membangun negeri tercinta”

-Nova Amalia-

 

CERPEN

Harapan Kecil Untuk Negri

Karya : Azizah Chairunnisa

 

“Assalatukhairum minan naum” terdengar suara adzan dari surau, aku pun terbangun dari tidur ku dan menunaikan sholat subuh. Seperti di pagi minggu biasanya, aku akan pergi ke pantai untuk mengambil ikan yang ayah jaring semalam di laut lepas. Tak berlama lama aku pun melangkahkan kaki keluar dari rumah dan segera menuju ke bibir pantai. Angin yang berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan pohon kelapa yang berjejer rapi, burung-burung laut pun berkicau terbang bebas di angkasa, matahari mulai terbit, di tambah dengan suara dentuman ombak yang memberikan suasana khas pesisir. Membuatku semakin cinta dengan negeriku yang begitu indah.

Dari kejauhan sudah terlihat air laut yang jernih dengan pasir yang berwarna putih. Aku pun menghampiri ayah di atas dermaga kayu yang sederhana dan mengambil sekarung ikan tongkol segar pemberian ayah. Aku pun bergegas pulang agar ikan-ikan tongkol ini tidak terlambat sampai ke kota. Di sepanjang jalan terlihat bendera pusaka merah putih berkibar di depan rumah warga, pertanda hari kemerdekaan hampir tiba. Di depan rumah sudah tampak pak Ali yang sudah siap dengan motornya untuk mengantar ikan ke kota. Kemudian aku meletakkan sekarung ikan tongkol di atas honda pak Ali.

Sulitnya ekonomi di daerah pesisir mengharuskan wanita dan anak-anak ikut bekerja. Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh wanita di pesisir menjemur ikan asin dan budidaya rumput laut. Biasanya untuk menambah uang jajan aku dan teman-teman sering mengumpulkan kerang-kerang yang ada di bibir pantai untuk dirangkai dan dijadikan berbagai aksesoris. Negeri ini memang mempunyai sejuta kekayaan alam dan keindahannya. Namun di balik keindahan ini, tak sedikit kapal-kapal asing yang masuk ke perairan tempat tinggal ku untuk menangkap ikan dengan cara pemboman ikan yang dapat merusak terumbu karang dan ekosistem laut, di tambah lagi mereka menggunakan pukat harimau yang dapat membunuh ikan-ikan kecil. Entah mengapa harus di negeriku mereka mencari ikan, mungkin benar seperti di film-film, orang bilang tanah kita tanah surga. Suatu saat nanti kami penerus bangsa ingin memberikan kesejahteraan bagi rakyat dan menjaga kemaritiman Indonesia dari kapal-kapal asing yang ingin mengambil kekayaan laut Indonesia.

Tak terasa hari sudah hampir magrib, langit pun sudah tampak merah kejinggaan, matahari pun perlahan menghilang. Adzan juga sudah berkumandang, segera aku berwudhu dan menunaikan ibadah sholat, setelah sholat dilanjutkan dengan makan malam dan tidur. Sudah beberapa malam aku merenung memikirkan bagaimana caranya memulihkan ekonomi rakyat desaku dan bagaimana caranya agar aku dapat membuat perubahan kecil yang bermanfaat untuk desaku tercinta. Pertanyaan ini yang selalu menghantui diriku, dengan melihat kondisi ekonomi tanah kelahiranku yang terus mengalami masalah, dan di malam kemerdekaan Indonesia ini aku belum bisa menemukan titik terang bagaimana cara melakukan perubahan yang bermanfaat. Mungkin aku bisa melakukan hal kecil untuk membela negeri ku dari permasalahan ekonomi, seperti mengajak temanku memanfaatkan potensi alam yang ada di pesisir kami, pikirku.

Wah, ternyata hari sudah pagi, ujar ku yang terbangun karena sinar matahari yang masuk ke kamar dari celah-celah dinding kayu dan menyengat kulitku. Aku begitu terlelap tidur semalam. Segera aku membuka jendela kamarku dan duduk sambil meluapkan isi hati ku.” Hai Indonesia, selamat hari kemerdekaan yang ke 75, di hari ulang tahun negeri ini ada harapan kecil untukmu, aku berharap ekonomi negeri ini ke depan semakin membaik dan bebaskan negeri ini dari kemiskinan dan kesengsaraan, mungkin puluhan tahun ke depan negeri ini akan di pegang oleh generasi milenial, izinkan kami untuk membela negara dari keterpurukan ekonomi dan memberikan sedikit perubahan untuk negeri kami. Sulit memang untuk remaja seusia ku untuk membela negaranya, namun jika sudah cinta pada negerinya semua hal akan dilakukan demi negerinya. Jika bukan sekarang kami bisa membela negara mungkin di masa yang akan datang, iya aku sangat yakin hal itu.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama