RASA 12 FKM

 

Karena engkau yang bermimpi, maka teruslah menjalani. Kemudian menyusuri setiap perjalanan tanpa setitik penyesalan. Untuk dirimu, wahai pejuang yang akan bersinar terang.

-Adante-

 

 

Mimpi

Karya: Full Sun

 

Di saat muda, kita menyimpan berbagai keinginan

Di saat belia, kita kita mengandai bermacam harapan

Lalu bersegera 'tuk menggapai tujuan

Walaupun rasa sukar datang bergantian

 

Di saat remaja, impian kian hari 'kan melambung

Di saat remaja, harapan akan terus menggunung

Ada yang kini di tonggak, lalu sebagian tetap menunggu

Kemudian terus menapak atau kembali merenung dahulu

 

Di saat dewasa dan masa depan

harapan dan keinginan akan terus berjalan

Menjadi impian yang tiada batasan

Menerjang untuk terealisasikan, menghindari segala ketidakpastian

 

Karena impian memanglah tanpa sekat

Tidak peduli kapan akan tiba masanya

Semua impian akan menghapiri tanpa tersesat

Menuju pemenang yang penuh daya juang

 

 

Bila berusaha harus dapat ikhlasnya

Persoal hasil tidak ada kepastiannya

Jangan terlalu sibuk mengatur-aturnya

Kita tidak punya kuasa

Apalagi yang kita bisa

Selain berusaha dan berdoa

Demi impian dan cita-cita

Semoga menjadi nyata

Nola Vita Sari

 

 

Hanya di Tangan yang Tepat

By. Nibihiu

 

            Aku, siswa tahun pertengahan yang tengah direpotkan oleh tugas-tugas harian, mengerjakan dengan setengah hati dan setiap hari tanpa motivasi, entah itu dari pribadi maupun teman dan rekan yang kini sedang sibuk sendiri. Hingga pada saatnya mereka semua memintaku untuk membantu, padahal rasanya semua ini akan berlalu walaupun tanpa kehadiranku.

            "Sebenarnya aku bisa saja menuntaskan ini ketika kamu berada di duniamu. Namun seribu sayang, jangan harap itu terulang." Ucap salah seorang teman perempuan nan mungil, tetapi bersuara tegas seraya membawa tumpukan tebal tugas kelompok ke hadapan. Ya, kami satu tim dalam nuansa ketidakakuran.

            Kata-kata yang terucap kali ini terdengar menusuk, biasanya dia acuh padaku dengan segala ketidakpatutan yang aku ciptakan. Namun aku tidaklah teramat tersinggung, "Kalau kamu bisa, kenapa harus saya?" Dan berusaha untuk terhindar sebagai kacung[i].

            'Dia gila kerja, aku gila rehat. Bukankah kita punya jalan masing-masing?' Pikiranku terkekeh. Sejujurnya, ketenangan pikiran dan tindakanku ini bukanlah semata-mata kesengajaan, mungkin bagian dari keridhoan? Walaupun sering bermalas diri, nilaiku masih memenuhi ekspektasi. Bahkan aku selalu peringkat tertinggi di mata pelajaran yang dicap 'ngeri'[ii]. Bukankah itu penggambaran yang cukup?

            Kulihat ekspressinya yang tadi hanya memanas, kini sudah membara. Ah, salahkan juga diriku yang hobi menyulut. Aku tetap pada posisi nyaman tanpa keraguan.

            Dia menatapku tajam seolah ingin menerkam, "Kalau aku terlalu mahir, apakah saat ini juga kau harus tersingkir?" Tanyanya tanpa perlu jawaban karena kini ia pergi dengan kembali menenteng tugas dan menghilang dari penglihatan.

            "Apa dia teramat terganggu?" sahutku. Kupikir dia akan memaksaku karena ucapan "Namun seribu sayang"-nya yang seolah-olah membuatku akan terjerat tanpa ampunan. Terjerat dalam bagian tugas yang never ending, nyatanya tidak.

            Hari kian berganti dan dia tidak bergeming untuk sekadar menghukumku atas kejadian lalu, apa dia benar-benar menggerutu? Aku menghampirinya yang tengah berkutat pada buku tebal yang selalu ia bawa, mungkin karena dalam rangka ujian sekolah minggu depan. Oh, tetapi dia memanglah terlihat serajin itu.

"Aku minta maaf, tapi aku tidak terlalu bersalah, kan. Apa salahnya kau coba sedikit meyakinkanku, mungkin tugas itu akan tetap di tanganku," kataku tanpa berdosa saat mencoba meminta pengampunan.

            Dia melirikku dan kembali pada buku, ekpressinya datar tidak menentu. Matanya agak sayu tapi jiwanya batu. Keras untuk semboyan 'Belajarlah atau nasibpun enggan merubahmu' yang terpatri di gantungan kuncinya, aku sempat melihatnya. Ya, setidaknya aku sudah berusaha, kan?

            Ujian tiba dan kami telah melaluinya. Ada yang lisan dan juga mode tulisan, pengumpulan individu maupun perkelompok menjadi satu. "Letih sekali rasanya, semoga hasilnya aman saja karena merasa soal dan jawabanku agak kelainan. Mungkin firasat saja," gumanku seraya merehatkan diri. Dalam minggu ini juga ada seleksi untuk olimpiade tahunan yang hanya bisa diikuti oleh 5 perwakilan! Dengan hati sumringan, aku cukup pede bahwa sebagai mahasiswa pilihan, mungkin aku akan di posisi itu untuk hari kemudian, pikirku.

            Minggu berikutnya, hasil tes dibagikan dan semua teman benar-benar terlihat mengherankan. Mereka menatapku yang baru saja ingin meraih papan pengumuman, "Kau tau, apa yang ditanam, itulah yang dipetik." Ujar teman sampingku dan ia berlalu. Ada apa?

 

Peringkat 3 - Gisya Ananda

.

.

.

Peringkat 11 - Jeremy Hasan

Nb: Peringkat 1-5 diloloskan tanpa syarat untuk mengikuti olimpiade.

            Tunggu. Hei, ilusikah peringkatku? Lalu, anak itu? Apa yang ia perbuat hingga terdampar dari jurang ke buayan, kemudian aku yang menggantikan posisi lampaunya?

            Gisya, sang peringkat konsisten (diantara) 10 – 20 besar, dari kelas biasa yang baru tahun ini terangkat di kelas unggulan, murid beasiswa atas perekonomian lemah, tidaklah sepandai itu ataupun berbakat khusus; adalah julukannya yang terngiang selama ini dan semuanya terucap lirih olehku tanpa sadar, ‘Dia merubah itu semua’.

            Tak lama, seseorang menepuk pelan bahuku dari belakang, "Namun aku punya minat dan ketekunan bawaan DNA, syukurlah kau menghiraukan itu." Aku membalikkan badan karena kaget, "Dan hari ini adalah bagian dari impianku yang hampir pupus, tetapi orang sepertimu bagaikan arang panas untuk api yang akan membara. Apiku yang tersulut gaya kolotmu!" Ucapnya setengah emosi, lalu merubah ekspresi; menghangat dan tersenyum tipis

            "Aku memaafkanmu dan terima kasih juga untukmu."

            Itulah Gisya, tokoh utama di hari mirisku ini langsung melenggang pergi dengan aku yang masih setia mematung. ‘Bukankah kau beruntung bahwa dirimu yang terlalu disanjung ini, harus berujung pada pahitnya kesenangan sementara atas segala kemampuan. Sampai tibalah saatnya, kini kamu telah disadarkan.' Batinku dan inilah yang kutangkap darinya. Mimpi besar yang kukira akan menghampiku, rupanya jatuh ke orang yang tepat dengan segala perjuangannya.

            Baiklah, aku berubah untuk diriku dan mimpi yang baru saja menghilang. Kumohon, tetaplah menungguku!



 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama