RASA 11 FKM


“Lemah, letih, lelah, dan diakhiri oleh rasa sedih, lalu bangkit dari sakit yang mencabik-cabik. Itulah rumah untuk berpulang, melepas resah hingga kesah segera menghilang.”

-Adante-

___

Saat kaki tak tahu lagi ke mana melangkah
Saat pundak tak sanggup lagi memikul amanah
Dan saat itulah tempat pulangmu hanyalah "sajadah"
Untuk mengadu berbagai keluh kesah kepada Sang Penentu Arah

-ZH-

___

 

 Langit tak akan terlihat tinggi jika tak ada daratan

Begitu pula mimpi

Setinggi apapun mimpimu, jangan lupakan berkat Yang Maha Esa lah semua terjadi

Sebaik-baik tempat pulang ialah di pangkuan-Nya

-Anggun Dwi Syakirah-

___

Menerjang beban sepanjang himalaya

Disambut bentangan alam keindahan

Apabila engkau telah berjaya

Jangan lupa untuk pulang ke perinduan

-Watermark-

___

 

SELEPAS PENYUSURAN

Karya: Full Sun

 

Jikalau sebuah jalan adalah penghantar kehidupan

Dengan kerikil yang menggenang hingga tepian

Walaupun diri hanya mengenal permulaan

Pastikan dirimu menyusuri tanpa keraguan

 

Jikalau Engkau berjalan dalam impian segudang

Dengan bebatuan yang senang ‘tuk menyerang

Bertekad penuh sebagai seorang pejuang

Pastikan dirimu sampai tanpa merasa gamang

 

Jikalau Engkau telah selesai pada tujuan

Bolehkan dirimu untuk berbalik badan

Sejenak menyusuri kekurangan ‘tuk beri perubahan

Selamanya ‘tuk menatap keindahan yang diberikan

 

Jikalau Engkau telah usai dalam renungan

Pulanglah pada jalan yang sama

Jalan yang kini tidaklah berubah lekukan

Hanya berbeda pandangan yang menggema

 

Bahwa engkau telah meraih kemenangan

Sehingga dirimu akan membebaskan pipihan beban

Lalu janganlah kamu berpaling dari haluan

Kembali pada awalan sebagai seorang pedoman

___

Datang Kembali

Karya: Nibihiu

 

            Pikiranku kalut tidak berujung.

            Itulah yang aku lakukan setiap perangkat ini dihadapkan pada pandangan kosong yang terpancar, aura keremangan untuk menentukan sebuah pilihan seraya membuka portal dengan berbagai kecemasan. Kuketikkan sebuah data pendaftaran, lalu menyapukan lagi dari kolom isian, berulang-ulang hingga kini mulai error tidak karuan.

            Ibu, apa harus aku memilih di sana?” tanyaku lirih

            “Tidak ada yang melarangmu untuk berada di kota ini, tapi itulah yang seolah menolak halus keberadaan penghuninya,” Ia hanya tersenyum kecut, “Kiranya hanya sampai saat ini, semoga ke depannya akan membaik, lagipula itu kan kesempatan emas.” Sambung ibu penuh harapan.

            Oh ayolah, Ibu tidak sejahat itu seakan mengusirku. Namun, sesungguhnya beliau hanya saja memberi sedikit arahan tersirat untukku yang terlampau cekat. Untukku yang sebagian kekanakannya mulai memudar, pandangan ala orang dewasa meminta untuk hadir dalam kehidupan.

            Aku bukanlah kekanakan karena manja, hanya karena sudah terbiasa. Hidup bersama keluarga yang manis, meskipun duka sering membuatmu meringis. Namun, hal itulah yang membuatku nyaman, seraya mengejakan kewajiban sebagai anak dan pelajar yang teladan? Aku harap demikian.

            Perasaanku kalut karena berat meninggalkan mereka. Jika kesempatan itu tiba, aku akan amat bersyukur! Beasiswa perguruan tinggi dengan tingkat kelolosan rendah bagi pendaftarnya yang ribuan itu telah mencoba memberiku peluang sehingga aku bisa ditahap terakhir, ‘Memasukkan identitas diri dan PT tujuan’ dengan seleksi akhir berupa nilai tes yang telah kujalani. Namun sebagai penggantinya, pikiranku akan penuh oleh ‘Bagaimana jika orang tuaku merasa tidak sehat saat bekerja? Atau adik-adikku yang masih gemar melanjutkan pertengkaran sepanjang masa?’ Tentunya aku harus terus bersama! Namun, tidak untuk kali ini. Keadaaan sedikit memintaku untuk mengalah, “Baiklah Bu, Aku sudah siap mendaftar. Semoga diberi yang terbaik,” sahutku pelan dan melenggang lesu ke halaman rumah.

            Kupandangi tiap jengkal pemandangan itu yang sudah seharusnya terasa memuakkan –metropolitan yang kaya akan polutan juga kenangan–, tetapi aku berat untuk meninggalkan. Dinding gersang itu kusentuh perlahan, “Sudah terlalu mutlak untuk mengganti cat. Sejak 19 tahun yang lalu, huh?” Bahkan umur pembatas ini sepantar denganku. Lalu mengedarkan lirikan ke tumbuhan yang setia subur dikala hari sinar mentari dengan panasnya yang melebur, karena kebutuhan fotosintesisnya sehingga dimaafkan oleh mereka juga. Sebenarnya belum ada tanda-tanda aku didepak, kenapa harus se-sedih ini? Bahkan belum tentu aku diterima –dan aku berharap besar untuk mendapatkannya–!

            Kini aku telah berada di negeri tetangga, data yang aku inputkan dulu telah membawaku ke dunia kampus dengan pijakan dataran yang berbeda –serupa tanahnya, tidak dengan penghuninya–. Ya, aku telah divonis sebagai mahasiswa di PT ternama di Negeri tirai bambu, benar-benar perwujudan ‘Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina’, luar biasa.

            Walaupun senang, hatiku gusar oleh keadaan rumah. Baru enam bulan kiranya rindu ini bagaikan jalan buntu, tidak ada jalan keluar untuk berpaling, “Apakah harus bertahun-tahun dulu sehingga bisa bertemu mereka lagi? aku mana bisa seenak jidat pulang-pergi ke rumah seperti anak-anak crazy rich ala temanku, bahkan ini tidak bisa diselesaikan dengan ANGKUTAN DARAT ANTAR-NEGARA–karena biasanya itulah yang termurah, tetapi tidak ada–!” Mulutku menjerit tanpa suara. ‘aku hanya ingin pulang sebentar saja....’

            Aku belajar tuntas dan bekerja keras untuk semua hal di sini. Oh benar, aku bekerja paruh waktu selepas kelas karena uang saku beasiswa dilarang untuk mengalir bebas dengan deras. Kiranya sudah 2 tahun berlalu dan kini aku harus bersemayam di kosan,  mengapa? Ya, pandemi mendadak membuat umat manusia sulit berkendak. Semua dibatasi termasuk aku yang hanya seorang diri, merenungi kesendirian untuk segala perasaan. Di tengah kondisi ekonomi nan melesu, rasanya ‘mati segan, hidup tak mampu’ –beasiswa bukanlah jalan tengah untuk membantu menafkahiku– dan berdoa agar senantiasa bertahan dalam keremangan.

            Lelah rasanya, tapi aku bahagia juga. bertemu rekan mancanegara untuk saling menimba ilmu, lalu berbagi rasa senasib sepenanggungan. Aku pernah sempoyongan selepas pulang kerja dan untunglah kawanku melintas, atau memberikan pinjaman saat terdesak serta kebaikan lainnya sehingga keahlianku dalam belajar harus disumbangkan untuk membantunya memahami materi. semua kegiatan padat itu kubagikan pada keluarga hanya sesekali lewat pesan singkat, kuota internet itu mahal sekali.

            “Hei pihak kampus mengabarkan jika kita akan dipulangkan, apa kau tahu?” pikiranku yang masih mengawang hanya menyahut “Maksudmu?” dan terdengar desisan di sana.

            “Covid membuat mahasiswa harus kembali ke asal! Walaupun belum ada kepastian, negara ini sedang tidak mau menampung manusia alien –asing– seperti kita,” katanya ya dengan sebal, jelas sekali dia tidak akan bisa memandang manis pada Koko-Koko Cina –sebutan akrab untuk kakak lelaki– di sini, remaja kadarluwarsa itu harus segera disadarkan.

            “Ya itu kan memang keadaan, mereka pun senang menerima manusia cerdas sepertimu,” balasku ringan pada sang penelpon agar ia berkurang beban pikiran Dengan raga terkantuk-kantuk, getaran suara itu baru saja terproses di lobus temporal –bagian pengendali indera pendengaran–otakku ,“HEY KAPAN SEMUA WACANA ITU TERLAKSANA?”

            Inilah alasan hamba-Nya atas peribahasa ‘Jauh di mata, dekat di hati’ yang selalu terngiang di sanubari. Karena sejauh apapun ketulusanmu pada sanak-famili, maka tanpa dimintapun ia akan membiarkanmu untuk kembali, walaupun dengan situasi bumi yang sejauh ini belum bisa diajak kompromi,“Semuanyaa, aku pulang!”

            -Sebelum mengakhiri, janganlah mengira jika aku bahagia atas perkara alam yang berduka cita, tetapi maksudku, di antara semua keluh juga ada hal-hal peneduh. ‘Setiap kesulitan ada kemudahan,’ jika berpulang kepangkuan harmoni keluarga adalah kebahagiaanku, maka dirimu juga memiliki kebahagian lain yang menyentuh kalbu, walaupun beriringan dengan kesedihan yang kalanya tidak bisa diperkirakan. Cepat sembuh bumiku, kami merindu pada hari indahmu.-

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama