RASA 9

 

TEMA : KEMENANGAN

 

Quotes

Oleh : Yulistia Buarni

Kemenangan sejati bukan menjadi yang terbaik dari siapapun, tetapi dapat jujur dan menahan diri sendiri.

 

Pantun

Oleh : Najwa Syiba Hansyaf

Hari minggu adik ke Padang

Pergi ke padang singgah di Unand

Jangan terbelenggu oleh keterpurukan

Marilah raih kemenangan

Senandika

Oleh : Juliza Nurul Alifa

Di mulai dari Subuh hingga terbenamnya matahari yang pertanda datangnya magrib aku menahan semua godaan. Baik itu dahaga, amarah, dan lain-lain. Aku memulainya dengan niat dan membatalkannya dengan doa. Ya, itu yang dinamakan sahur dan berbuka. Tentunya itu semua bernama  puasa. Aku menjalani puasa dengan diiringi kesabaran yang besar. Selain berpuasa, aku juga menjalani ibadah lain seperti tadarus dan mendengar pengajian. Tapi setelah lama berlalu menjalaninya, aku akan berpisah dengan bulan yang penuh rahmat ini. Dan hanya tinggal menghitung hari untuk menuju hari kemenangan.

 

Ingin Menang atau Tidak?

Oleh : Noviana Sinta Dewi. S.

 

Meski akal terus berbohong

Namun, si pembenteng dusta tetap setia menolong

Kamu tahu banyak salah

Namun, ingin piala diserah

Kamu sangat tahu hampir kalah

Namun, bukan berarti tak dapat diubah

 

Saat ini, Tuhan masih ingin kamu dekat

Jadi jangan lupa untuk bertaubat

Saat ini, Tuhan masih ingin kamu tunduk

Jadi hilangkanlah gejolak hiruk-pikuk

Saat ini, Tuhan masih ingin kamu menang

Jadi gunakanlah waktu agar tak kurang

 

Gantilah hitammu jadi putih

Keruhmu jadi jernih

Meski belum hari sebelumnya

Bukan berarti juga hari esoknya

Jemput kemenanganmu hari ini

Agar rugi segera menepi

Di bulan yang suci ini

 

Kemenangan Berawal dari Perjuangan

Oleh : Aulia Rahmatika

Namaku Winda, aku berusia 12 tahun, aku baru memasuki SMP favoritku yaitu SMPN 1. Pada suatu hari di sekolah ada pelajaran Penjasorkes yang pada saat itu aku disuruh membawa raket.

Di sekolah

“Hai, Winda.” sapa sahabatku Fira.

“Iya, Fira” jawabku.

Belum sempat mengobrol, bel sudah berbunyi, Kriiing kriiing, bel masuk berbunyi. Aku dan teman-teman langsung menuju lapangan, masing-masing membawa raket yang berbeda-beda, mungkin raketku yang paling murah dan jelek, ucapku dalam hati sambil melamun. Tiba-tiba Fira menyadarkan lamunanku, “Win, Winda…” ucap Fira sambil melambaikan tangannya di depan mukaku, “eh, iya, ada apa?” ucapku dengan kaget.

“Itu, kita suruh kumpul di sana,” ucap fira sambil menunjuk bawah pohon beringin.

“Materi kita sekarang badminton atau bulutangkis” seru pak Fadli.

“Oke, langsung ke tengah lapangan” seru pak Fadli. Dari dulu aku jarang bermain badminton karena raketku rusak sejak SD, ini pun hanya dibetulkan untuk sementara.
“Fira, aku dengan kamu ya?” pinta ku kepada Fira,

“Pasti dong, Win” ucap Fira.

Kami diajari teknik dasar, sekarang kami diberi kebebasan untuk bermain masing-masing. “Aduh aku gak bisa bisa, nih” ucapku mengomel.

 “Semangat kamu pasti bisa kok, Win. Ayo, kita main lagi!” seru Fira menyemangatiku. Aku tidak berhenti mencoba dan mencoba, apa mungkin karena raketku yang jelek aku menjadi tidak bisa bermain ini? Lagi-lagi aku melamun.

“Winda, dari tadi aku lihat kamu melamun terus, ada apa? Cerita saja ke aku, aku siap kok jadi pendengarmu” seru Fira mengusulkan “Tapi tidak di sini, di sana saja, yuk!” pintaku sambil menunjuk kursi di bawah pohon.

“Fir, aku ingin sekali mahir bermain badminton dan memiliki raket baru,” ucapku bersedih

“Aku bisa bantu, kamu mau tidak aku ajari setiap sore di rumah ku?” usul Fira.

“Wah, benar Fir? Terima kasih, ya, kamu memang sahabat terbaikku.” ucapku bahagia.

Setelah 1 bulan aku belajar, aku sudah bisa bermain badminton, tapi masalah ku belum selesai karena aku ingin raket baru, tapi itu tidak mungkin karena ibuku hanya buruh cuci dan ayahku hanya kuli bangunan. Walaupun begitu, aku tetap sayang pada mereka. Aku tidak mungkin menggunakan uang mereka hanya untuk kepentinganku sendiri.

Suatu hari aku dan Fira sedang berjalan-jalan mengelilingi sekolah, tiba-tiba Fira mengagetkan ku “Win, Win, Winda, liat deh selembaran yang tertempel di mading itu!” seru Fira sambil menunjuk mading, “Ada apa sih, Fir?” ucap ku penasaran. Di kertas itu tertulis ada lomba badminton dan yang menang akan mendapatkan uang sebesar 1 juta dan pelatihan selama 3 bulan. “Kamu ikut saja, Win, hadiahnya bisa untuk orang tua mu dan membeli raket yang kamu inginkan.” usul Fira.

“Apa aku bisa?” ucap ku ragu-ragu

“Pasti, kamu pasti bisa.” ucap Fira meyakinkan,

“Oke, aku akan ikut, tapi apa kamu tidak ikut?” tanyaku

“Tidak ah aku ingin menyemangatimu saja”

Pagi hari Minggu, aku dan Fira sudah bersiap-siap, kami naik angkot untuk sampai ke tempat perlombaan. Sesampainya aku di sana, antrian pendaftarannya sangat panjang, “Fira, antriannya sangat panjang apa kamu mau menemaniku?” ucap ku sedih. Fira menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Akhirnya aku mendapat kesempatan mendaftar tapi perlombaan diadakan minggu depan “Ayo kita pulang” ucapku yang sudah mendapatkan kesempatan mendaftar.

Saat hari Minggu yang ditunggu-tunggu, aku memasuki lapangan, Fira menyemangatiku, orang tua ku tidak tau sehingga tidak ada mereka yang menyemangatiku, “Ayo, ayo, Winda, semangat!” teriak Fira. Waktu dan permainan terus berjalan dan aku masuk final.

“Hore, aku masuk final! Terima kasih, ya, Fir, kamu sudah menjadi penyemangat ku,” ucap ku senang. “Iya,” fira ikut tersenyum. Aku menjadi pemenang juara 2 setelah diseleksi walaupun begitu aku tetap mendapatkan hadiah 1 juta dan pelatihan 2 bulan. Aku senang karena aku bisa mempunyai raket baru dan menjalankan pelatihan badminton bersama sahabatku Fira.

Semua uang hasil lomba aku berikan kepada orang tua ku mereka bangga kepada ku dan mengucapkan terima kasih kepada fira “Nak, terima kasih, ya, sudah mengajari anak Ibu,” ucap ibu ku.

“Aku memberi ini untukmu terima ya, sebagai ucapan terima kasih,” ucap ku memberikan raket yang sama sepertiku,

“Benar? Terima kasih ya,” ucapnya,

 “Harusnya aku yang berterima kasih” ucapku. 

Sekarang ibuku tidak menjadi buruh cuci lagi karena membuka warung dari hadiah uang hasil kerja kerasku. Aku senang ekonomi keluarga ku tidak seburuk dahulu, ayah pun ikut membantu ibu. Sekarang aku tau bahwa kemenangan berawal dari perjuangan.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama