RABU BERSASTRA 4


Puisi :

HUJAN
Karya :Laras Putri Adhila

Dirahasiakannya rintik rindunya
Pada pohon yang berbunga itu
Dihapuskannya jejak- jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Senandung lagu mendekap lirih romansa jiwa
Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam
Dalam lautan mimpi sang penghirup malam
Pada hujan yang mengguyur bumi
Bolehkah kau berhenti sejenak?
Aku sangat merindui pelangi
Yang mungkin akan datang
Dikala rintik hujan berhenti membasahi bumi


Cerpen : 

Cerita Sendu Bersama Hujan
Karya: Anggun Dwi Syakirah

            Perkenalkan, dia gadis beranjak remaja dengan putih kulitnya juga pipi yang merona. Orangtuanya memberi ia nama Sendu. Sendu. Katanya sih gabungan antara Senja dan Rindu. Sendu merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Meskipun bungsu, tetapi ia selalu bersikap seolah tak ingin dimanja dan dipandang lemah.
            Sendu bukanlah anak yang suka menutup diri, dia suka bergaul. Bahkan ia punya banyak teman. Namun, sangat sulit bagi Sendu untuk berbagi perasaannya, dan disinilah ia mulai merasakan manis-pahitnya kehidupan.
            Awalnya, Sendu mengira ia menyukai hujan. Ia pernah mendengar sebuah frasa bahwa hujan akan membuat perasaan seseorang menjadi tenang. Meskipun Sendu tidak kuat dengan dinginnya suhu ketika hujan, tetapi ia tetap bersikeras bahwa ia menyukai datangnya hujan. Seringkali ketika hujan turun, ia duduk di teras rumah sambil menatapi butiran air tersebut jatuh bersamaan. Berharap sedih yang ia rasakan seharian akan ikut lenyap bersama dengan rintik-rintik hujan. Sekali, dua kali, tiga kali, ia coba membuktikan frasa tersebut. Anehnya, bukan merasa lebih baik, namun Sendu menjadi semakin sedih ketika hujan turun. Dingin ia rasakan, selimut yang ia butuhkan, dan tertidur pada akhirnya. Lalu apa? Ketika terbangun ia kembali ingat dengan masalahnya. Tidak ada yang berubah.
            Ketidakpercayaan Sendu terhadap hujan yang dapat menyembuhkan lukanya, terus berlanjut. Semakin hari, ia semakin mengenali dirinya juga dunianya dibandingkan orang lain. Bahagia, sedih, marah, tangis, dan tawa semua datang kemudian pergi tanpa adanya permintaan. Kebingungan melanda perasaan dan menggorogoti pikiran Sendu. Masalah tidak ada habisnya. Cinta, pelajaran, pertemanan, keluarga, keuangan, dan diri sendiri. Semua masalah datang silih berganti, kadang ada yang datang secara keroyokan. Ia terlalu letih hingga tibalah di masa ia benar-benar merasa sangat lemah tak berdaya.
            Tak tahu kemana harus pergi. Hmm bukan tak tahu, tetapi ia tidak ingin keluar dari ruang tertutupnya. Entah apa masalahnya hingga Sendu sulit berbagi perasaan kepada orang lain. Bahkan orangtuanya pun tidak dapat ia jadikan sebagai tempat bercerita. Ia sadar dengan sifatnya, tetapi memang tidak bisa. Berbagi dengan diri sendiri adalah yang terbaik ia pikir. Meskipun, perasaan sesak selalu terkurung di dalam dadanya. Atau mungkin karena kepercayaan? Tidak ingin membebani? Selalu beranggapan bahwa semuanya akan baik-baik saja secepatnya? Hmm bisa jadi karena itu semua. Meskipun sulit, kini ia hanya bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya. Karena Sendu-lah yang menentukan bagaimana alur hidup yang akan ia jalani sebagai tuan rumah atas kehidupannya sendiri.
            Sendu merupakan seseorang yang tampak tegar diluar namun sangat rapuh di dalam. Ia selalu menyediakan bahunya untuk dibasahi ketika temannya bersedih. Tetapi ia? Ia tak ingin seorang pun melihat air matanya turun. Kadang, di rumah pun ia tak bisa leluasa mengeluarkan perasaannya dengan isakan tangis. Karena ia tak ingin keluarganya mendengar. Lalu dimana ia harus menumpahkan semua rasa sedihnya? Bagaimana caranya?
            Hingga suatu malam, selepas shalat maghrib hujan turun selebat-lebatnya. Berisik. Bau tanah juga ikut ambil andil seperti saat hujan biasanya. Suasana hati Sendu saat itu sangat buruk, hingga ia memutuskan untuk mempercayai hujan sekali lagi. Sendu bersimpuh lemas menggunakan mukenah dengan menengadahkan tangan sembari bercerita dengan Sang Pencipta. Sang Khaliq, sebaik-baik tempat mengadu. Dengan bantuan hujan, kali ini ia berhasil menangis sejadi-jadinya. Ia keluarkan air yang tertahan di dalam matanya, hingga rasanya air itu turun memenuhi rongga dadanya. Ia mencoba melepaskan ikatan sesak yang ia tahan hingga saat itu. Menangis dan berteriak ia lakukan sampai suara adzan selanjutnya tiba. Ia coba tuk menenangkan diri hingga tiada air mata yang tersisa lagi. Merasa lebih baik? Bukan. Sangat sangat lega. Pikiran dan hatinya menjadi tenang meskipun mata dan hidungya sangat merah. Suara dari tenggorokkan pun terdengar lemah. Namun, hujan diluar rumah masih saja melakukan tugasnya menyirami semesta ini.
            Kali ini Sendu berhasil membuktikan frasa, bahwasanya hujan dapat membuat perasaan menjadi tenang. Setelahnya, Sendu dapat memberikan penilaian terhadap hujan. Sendu berpendapat bahwa : Pertama, ributnya rintik air yang turun bersamaan, membantunya meredam suara dan isak tangis hingga tak terdengar oleh orang lain. Kedua, langit yang menjadi gelap ketika hujan turun, seolah mereka tidak ingin kita merasa sedih sendirian, dan juga kegelapan membantu agar tak ada orang lain yang tahu, siapa yang sedang menangis. Ketiga, bau tanah yang merebak karena terkena keroyokan rintik hujan, membantu memberi perasaan senang dan tenang.
Meskipun dingin, tapi kali ini hujan berhasil menarik Sendu sebagai penggemar barunya. Berkat hujan, Sendu pun akhirnya mendapatkan teman sekaligus cara jikalau ia ingin bercerita. Tanpa takut adanya perasaan akan dikhianati oleh manusia.

Qoutes : 

Saat malam menjelma
Ada rintik hujan yang diam - diam terjatuh
Sendu yang tak pernah terungkapkan
Dibalik keceriaan
(Rahma Wahyuni)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama