Puisi
Serakah
Oleh Siti Haura Hawari
Menulis kata rahasia penuh keresahan.
Lalu menatap kosong dengan kebingungan.
Aku setiap hari bertanya...
Apakah ini memang jalan yang ku jaga?
Bukankah goresan pena di ujung buku,
Terus mengingatkanku akan rencana yang tertunda?
Tapi... Mengapa batinku tahu,
Lalu ragaku tidak bergerak sesuai rencana.
Bu, akankah semua jalan ini sampai kepadaku...
Atau justru laut kematian menjemputku?
Bu, bukannya aku pesimis.
Tapi hidup membuatku berjuang dengan tanda tanya.
Oh, tinta terjatuh di atas kertas penuh kata.
Aku menatap tulisan terakhir...
Tampaknya ia memperingatkanku.
Jangan serakah akan hidup lama.
Suara
Oleh Siti Haura Hawari
Mencoret kata dengan luka.
Aku menatapnya dengan hampa.
Sebuah kejadian sempat menggoresnya,
Memercik api di atas kertas penuh tulisan.
Nak, apakah kau tahu?
Manusia menulis saat merasa sengsara.
Atau hancur dengan batin tak bernyawa.
Nak, apakah kau tahu?
Manusia menulis dengan putus asa,
Agar dapat diingat jika berakhir dengan sebuah nama.
Suara itu bagaikan teka-teki kematian,
Ternyata telah sampai kepadaku.
Ia menyusup dengan senyap,
Lalu masuk saat tidak diperhatikan.
Suara itu terus menggema di ujung nestapa.
Nak, sekarang kau tengah menulis.
Apakah kini batinmu terasa hancur ...
Atau ragamu terus berteriak ingin di kenang?
Quotes
Oleh Athifa Khairiyah
“Tinta yang menetes dari ujung pulpen mungkin kelihatan biasa aja, tapi lewat tulisan sederhana itulah, benih-benih perubahan besar sebenarnya mulai tumbuh.”
“Kadang satu baris kalimat yang ditulis dengan tulus punya tenaga yang jauh lebih besar untuk mengetuk hati manusia ketimbang ribuan pidato.”
Dari Ujung Pulpen, Lahir Perubahan
Cerita Pendek
Oleh Ifdalil Akbar
Hujan baru saja reda ketika Nadia sampai di depan kelas 9B, sepatunya belepotan lumpur dari jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan SMP Satu Atap Sukamaju. Jalan itu sudah bertahun-tahun rusak, dan setiap musim hujan tiba, jalan itu berubah menjadi kubangan yang menelan sepatu siapa saja yang lewat.
"Lagi-lagi telat, Nad?" sapa Rizky dari bangku belakang, sambil terkekeh kecil.
"Jembatan bambu di dekat sungai ambruk lagi," jawab Nadia sambil duduk, mengeluarkan buku tulisnya yang sudah lusuh di bagian sampul.
Pak Slamet, guru Bahasa Indonesia yang sudah mengajar di sekolah itu selama dua belas tahun, masuk kelas sambil membawa setumpuk kertas. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya.
"Anak-anak, hari ini kita akan menulis. Tapi bukan sekadar tugas mengarang biasa," katanya sambil meletakkan kertas-kertas itu di meja. "Kalian akan menulis surat. Surat yang sungguh-sungguh akan dikirim, bukan hanya dinilai lalu dilupakan."
Kelas riuh oleh bisikan. Rizky mengangkat tangan. "Surat untuk siapa, Pak?"
"Untuk Bupati," jawab Pak Slamet tenang. "Tentang jembatan dan jalan yang setiap tahun kalian keluhkan. Saya sudah lelah hanya mengeluh di ruang guru. Mungkin sudah waktunya suara kalian yang didengar."
Di sudut kelas, Nadia menggenggam pulpennya erat-erat. Ia bukan anak yang banyak bicara, tapi di atas kertas, kata-kata selalu mengalir lebih mudah baginya daripada di depan orang.
***
Sepulang sekolah, Nadia singgah ke warung kelontong milik Pak Darto, tetangga sekaligus satu-satunya orang di kampung yang punya televisi berwarna. Ia ingin membeli pulpen baru karena pulpennya nyaris kehabisan tinta.
"Buat apa nulis surat ke Bupati?" ujar Pak Darto sambil menyerahkan pulpen, nada suaranya setengah meremehkan. "Sudah dari dulu jalan itu rusak. Pejabat mana peduli sama surat anak sekolah?"
Nadia terdiam sebentar. "Kalau tidak ada yang mulai menulis, Pak, tidak akan ada yang mulai berubah."
Pak Darto hanya mendengus, tapi matanya sempat menatap Nadia lebih lama dari biasanya.
***
Malam itu, di bawah lampu minyak—karena listrik di rumahnya sering padam—Nadia menulis dan menulis ulang suratnya. Ia tidak menulis tentang data atau angka, melainkan tentang Doni, adik kelasnya yang pernah terpeleset di jembatan bambu dan kakinya patah, tentang Bu Hartini, kepala desa yang setiap rapat selalu berjanji tapi tak pernah punya anggaran, tentang dirinya sendiri yang harus berangkat sekolah pukul lima pagi hanya untuk menghindari jalan becek di jam ramai.
Ia menulis satu kalimat penutup yang membuatnya berhenti sejenak: "Kami tidak meminta jalan yang mewah, kami hanya ingin sampai ke sekolah dengan selamat."
***
Seminggu kemudian, tigapuluh dua surat dari murid-murid kelas 9B dikumpulkan menjadi satu bendel oleh Pak Slamet. Namun surat Nadia yang dipilihnya untuk dibacakan di depan kelas.
"Ini bukan sekadar surat," kata Pak Slamet sambil menahan haru. "Ini adalah bukti bahwa dari ujung pulpen, kita bisa memulai perubahan yang tidak pernah berani kita bayangkan."
Rizky, yang tadinya menulis surat sambil bercanda, tiba-tiba merasa surat miliknya terlalu ringan dibanding milik Nadia. Ia meminta izin menulis ulang, kali ini dengan sungguh-sungguh menceritakan pengalamannya menggendong adiknya melewati jembatan yang goyah.
Bendel surat itu dibawa Pak Slamet ke kantor kecamatan, lalu diteruskan ke kantor kabupaten. Berbulan-bulan tak ada kabar, hingga suatu hari, Bu Hartini datang ke sekolah membawa map cokelat tebal.
"Surat-surat kalian," katanya sambil menghela napas, "sampai ke meja seorang staf Bupati yang kebetulan dulu juga alumni sekolah ini. Dia membacakannya di rapat anggaran. Katanya, ia menangis membaca surat seorang anak bernama Nadia."
Kelas terdiam. Nadia menunduk, pipinya memerah.
"Jalan dan jembatan kalian," lanjut Bu Hartini, "masuk dalam program pembangunan tahun depan."
***
Enam bulan kemudian, jembatan beton kecil berdiri menggantikan jembatan bambu yang dulu ambruk. Di hari peresmiannya, Pak Darto berdiri di antara warga yang hadir, memandangi jembatan itu dengan mata berkaca-kaca.
"Saya salah," katanya pelan kepada Nadia yang kebetulan berdiri di sampingnya. "Ternyata tulisan seorang anak bisa lebih kuat dari beton sekalipun."
Nadia tersenyum kecil, menggenggam pulpen yang sudah mulai kehabisan tinta itu di sakunya. Ia tahu, perubahan besar itu tidak selalu dimulai dari palu atau keputusan pejabat, tapi kadang, dari sebuah ujung pulpen yang berani menuliskan kebenaran yang selama ini hanya dipendam.
TAMAT
Senandika
Oleh Novita Marsyilla Fitri
Kadang aku berpikir,
apa benar tulisan sekecil ini bisa membawa perubahan?
Benarkah?
Entahlah.
Tapi mungkin, perubahan memang tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa jadi, cukup dari satu kata yang ditulis, satu keresahan yang disampaikan, atau satu gagasan yang akhirnya berani dibagikan.
Jadi, kalau hari ini aku masih menulis, mungkin karena aku percaya.
Aku percaya bahwa sekecil apa pun kata yang lahir dari ujung pulpen, tetap punya cerita untuk didengar. Dan mungkin tetap punya arti untuk perubahan.
Puisi/Sajak
Tinta Yang Tak Pernah Diam
Oleh Nazwa Wandira
Di antara sunyi dan lembaran putih,
sebatang pulpen mulai menari,
menorehkan kata yang mungkin sederhana,
namun menyimpan keberanian di dalamnya.
Dari ujung pulpen,
lahir sebuah pertanyaan,
tentang dunia yang belum sempurna,
tentang suara yang belum didengar,
tentang mimpi yang enggan menyerah.
Satu kata ditulis,
menjadi kalimat yang bermakna.
Satu gagasan tumbuh,
menjadi langkah yang nyata.
Dan satu keberanian,
mampu mengubah arah cerita.
Pulpen bukan sekadar alat untuk menulis,
ia menjadi saksi dari keresahan,
menjadi jembatan antara pikiran dan tindakan,
menjadi awal dari sebuah perubahan.
Mungkin tangan ini masih gemetar,
mungkin tulisan ini belum sempurna,
namun perubahan tak selalu bermula
dari mereka yang paling berkuasa…
kadang, ia lahir
dari tangan sederhana
yang berani menuliskan kebenaran.
Maka biarkan tinta terus mengalir,
mengisi ruang-ruang yang kosong,
menyuarakan harapan yang tertahan,
dan menyalakan mimpi yang hampir padam.
Sebab kita tak pernah tahu,
kata mana yang akan menggerakkan hati,
kalimat mana yang akan membuka mata,
dan tulisan mana yang kelak
menjadi awal perubahan besar.
Hari ini, kita menulis.
Esok, kita melangkah.
Dan suatu hari nanti,
ketika lembaran ini dibaca kembali,
semoga dunia menemukan jejak
bahwa pernah ada tangan-tangan muda
yang percaya….
bahwa dari ujung pulpen,
perubahan benar-benar bisa lahir.
KETIKA TINTA MULAI BICARA
Oleh Nazwa Wandira
Ada sebatang pulpen
tergeletak di antara buku-buku,
diam, sederhana,
seolah tak mampu berbuat apa-apa.
Namun ketika jemari menggenggamnya,
ia mulai berbicara…
bukan dengan suara,
melainkan dengan tinta
yang jatuh perlahan di atas kertas.
Ia menulis tentang keresahan,
tentang mimpi yang belum sampai,
tentang ketidakadilan yang sering dibiarkan,
tentang harapan yang masih ingin diperjuangkan.
Sebab perubahan
tidak selalu datang dengan langkah yang besar.
Kadang ia dimulai
dari sebuah pikiran,
lalu dituliskan menjadi gagasan,
dan diperjuangkan menjadi kenyataan.
Satu goresan mungkin tampak kecil,
tak akan mengguncang dunia.
Tetapi bukankah sungai yang luas
juga bermula dari tetes yang sederhana?
Maka jangan remehkan tulisan
yang lahir dari tangan-tangan muda.
Di dalamnya ada keberanian,
ada suara,
ada cita-cita,
dan ada masa depan yang sedang dirancang.
Biarkan tinta ini menjadi saksi,
bahwa kita pernah peduli.
Bahwa kita pernah bertanya.
Bahwa kita pernah menolak diam
ketika sesuatu harus diperbaiki.
Karena pulpen hanyalah benda,
tetapi tangan yang menggerakkannya
dapat melahirkan gagasan.
Dan gagasan yang diperjuangkan
dapat mengubah kehidupan.
Jadi,
selama tinta masih mengalir,
selama tangan masih mampu menulis,
jangan biarkan satu lembar pun
berakhir tanpa makna.
Tulislah harapan.
Tulislah keberanian.
Tulislah perubahan.
Karena mungkin,
di ujung pulpen yang kita genggam hari ini,
sedang menunggu
sebuah dunia yang lebih baik
untuk dilahirkan.
Quotes
Oleh Aquila Suci
“Apa yang kamu tulis hari ini bisa menjadi jejak yang mendorong hari esok”.
“Tidak semua perubahan dimulai dari langkah besar, ada yang awalnya hanya sebuah tinta yang berani mengatakan sesuatu”.
Senandika
Dari Ujung Pulpen, Lahir Perubahan
Oleh Mutia Anggina Chanda
Kadang aku bertanya, sebenarnya untuk apa aku menulis?
Untuk mengisi halaman yang kosong?
Untuk membuat kata-kata terlihat indah?
Atau hanya untuk menyimpan sesuatu yang terlalu sulit untuk diucapkan?
Entahlah.
Tapi semakin sering aku menulis, semakin aku sadar bahwa ternyata kata-kata tidak pernah benar-benar sederhana. Satu kalimat bisa membuat seseorang merasa dimengerti. Satu tulisan bisa membuat seseorang berhenti sejenak dan berpikir. Bahkan sebuah kata yang ditulis dengan jujur, mungkin saja menjadi awal dari sebuah perubahan.
Dulu, aku mengira pulpen hanyalah benda kecil yang membantu menyelesaikan tugas. Sekarang aku tahu, dari benda kecil itu bisa lahir sesuatu yang jauh lebih besar.
Dari ujung pulpen, keresahan bisa menjadi tulisan.
Dari tulisan, pikiran bisa menjadi suara.
Dari suara, seseorang bisa mulai peduli.
Dan dari kepedulian, perubahan bisa dimulai.
Mungkin aku tidak selalu bisa mengubah dunia. Mungkin tulisanku tidak akan dibaca banyak orang. Tapi bukankah perubahan memang sering kali dimulai dari sesuatu yang kecil?
Satu kata.
Satu halaman.
Satu keberanian untuk menyampaikan apa yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala.
Maka hari ini, aku ingin kembali menulis.
Bukan karena aku punya semua jawaban, tetapi karena aku percaya setiap kata punya tempat untuk sampai. Barangkali tulisanku sederhana, tetapi semoga ia mampu mengetuk hati seseorang. Barangkali tintanya akan mengering, tetapi semoga maknanya tidak ikut hilang.
Sebab pada akhirnya, aku percaya
perubahan tidak selalu lahir dari suara yang paling keras.
Kadang, ia justru lahir diam-diam, dari ujung sebuah pulpen.
Cerpen
Oleh Aquila Suci
Dari Ujung Pulpen, Lahir Perubahan
Hujan baru saja berhenti, Aruna menatap selembar kertas kosong yang ada di depannya. Sudah hampir satu jam dia duduk di depan laptop, tapi belum ada satu kalimatpun yang berhasil dia tulis.
Di samping tangannya, sebuah pulpen hitam tergeletak. Pulpen itu sebenarnya sederhana saja, bahkan tinta di dalamnya sudah hampir habis. Namun, entah mengapa, benda itu selalu membuatnya teringat pada satu hal: berani berbicara.
“Kalau cuma menulis, memangnya bisa mengubah sesuatu?”
Pertanyaan itu pernah diajukan oleh seorang temannya saat Aruna memutuskan untuk bergabung dengan sebuah organisasi kepenulisan di kampus.
Saat itu ia hanya tersenyum.
"Aku juga nggak tahu," katanya."Tapi setidaknya, aku bisa mulai dari sesuatu yang sudah aku punya."
Aruna tidak punya banyak hal untuk ditawarkan. Ia bukan orang yang terbiasa berbicara di hadapan banyak orang. Ia juga bukan tipe mahasiswa yang selalu bisa memberikan jawaban untuk setiap masalah. Tapi ia punya satu hal yang ia yakin: kata-kata.
Beberapa minggu kemudian, dia merasakan kegelisuran yang sama yang juga dirasakan oleh banyak mahasiswa. Informasi kegiatan kampus sering terlambat diterima. Banyak mahasiswa sebenarnya punya pendapat, tapi mereka memilih tidak menyampaikannya karena merasa suaranya tidak akan terdengar.
Aruna mulai menulis.
Ia menulis tentang mahasiswa yang ingin didengar. Tentang ruang-ruang diskusi yang seharusnya terbuka. Tentang berani menyampaikan pendapat tanpa takut dianggap terlalu suka berbicara.
Tulisan itu kemudian dimuat di media kampus.
Aruna tidak berharap banyak.
Namun, beberapa hari setelah artikel itu diterbitkan, ada pesan yang masuk ke ponselnya.
“Run, aku baca tulisanmu. Ternyata aku nggak sendirian ngerasa seperti itu.”
Pesan lain menyusul.
"Terima kasih sudah menulis apa yang tadi-tadi aku nggak berani katakan."
Lalu satu lagi.
Setelah aku baca tulisanmu, akhirnya aku berani ngomong di forum kemarin.
Aruna terdiam cukup lama.
Ia menatap kembali pulpen hitam di sampingnya.
Pertama kali, ia menyadari bahwa tulisan tidak selalu perlu mengubah dunia dalam semalam. Kadang, perubahan bisa dimulai dari satu orang yang merasa tidak sendirian.
Sejak hari itu, Aruna tidak lagi memandang tulisannya hanya sebagai sekumpulan kata.
Ia mulai menyadari bahwa setiap kata memiliki kemungkinan yang tersendiri. Kemungkinan untuk menyadarkan, menggerakkan, mempertanyakan, bahkan memperbaiki sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa.
Pulpen di tangannya kembali bergerak.
Kali ini, kertas kosong itu tidak lagi membuat takut.
Aruna tersenyum, lalu menulis kalimat pertama:
Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah keadaan dengan berteriak keras. Namun, kita selalu bisa memulainya dengan satu kata yang berani.
Di luar jendela, langit mulai cerah.
Dari ujung pulpen yang sederhana itu, sebuah perubahan kembali dimulai.
Posting Komentar