[BERITA] May Day 2026 : Aksi Buruh dan Aliasi Mahasiswa di Sumatera Barat, Apakah Aspirasi Telah Didengarkan?

 

Padang, 4 Mei 2026.  Kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Barat hingga saat ini masih berada dalam situasi yang rentan. Dinamika angkatan kerja dan tingkat pengangguran menunjukkan adanya ketimpangan yang cukup serius. Tercatat sekitar 3,07 juta penduduk bekerja, sementara sisanya masih berada dalam kategori pengangguran. Hal ini menandakan bahwa pasar tenaga kerja di Sumatera Barat belum berjalan secara optimal.

Persoalan upah juga menjadi sorotan. Kenaikan upah yang tidak sebanding dengan laju inflasi menyebabkan daya beli masyarakat terus menurun. Tidak sedikit pekerja yang menerima pendapatan yang tidak sesuai dengan beban kerja, bahkan tanpa jaminan sosial yang memadai. Kondisi ini memperlihatkan bahwa masalah ketenagakerjaan bukan hanya soal tersedianya pekerjaan, tetapi juga kualitas dan perlindungan kerja. Tingkat pendidikan di Sumatera Barat juga masih memerlukan perhatian serius, terutama akibat banyaknya fasilitas pendidikan yang terdampak bencana alam. Kondisi ini menyebabkan proses belajar mengajar sempat terganggu, ditambah dengan infrastruktur yang hingga kini masih dalam tahap pemulihan.

Melalui berbagai permasalahan tersebut, ratusan buruh bersama aliansi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat menggelar aksi pada 4 Mei 2026 di depan Kantor Gubernur Sumatera Barat. Aksi ini merupakan momentum gabungan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional, yang mengangkat isu kesejahteraan buruh sekaligus kondisi pendidikan di Sumatera Barat.

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan berbagai tuntutan, di antaranya peningkatan kesejahteraan buruh, penolakan terhadap kebijakan yang merugikan pekerja, percepatan pembangunan pascabencana 2025 di Sumatera Barat, penegakan regulasi sosial, serta peningkatan kualitas dan akses pendidikan. Aksi berlangsung cukup dinamis. Massa sempat terlibat dorong-dorongan dengan aparat keamanan ketika mencoba menyampaikan aspirasi secara langsung ke kantor gubernur. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena akses menuju gedung dibatasi oleh aparat.

Salah satu peserta aksi, Ardian Okta Sya’bani selaku Meko Pergerakan BEM KM UNAND, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk respons terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Sumatera Barat. “Aksi ini dilaksanakan karena banyaknya isu yang belum terselesaikan, dan momentumnya bertepatan dengan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa harapan utama dari aksi tersebut adalah adanya respons langsung dari pemerintah daerah. “Kami berharap gubernur dan wakil gubernur dapat menemui massa aksi dan mendengarkan aspirasi kami secara langsung,” tambahnya.

Namun hingga aksi berakhir sekitar pukul 18.00 WIB, tidak ada satu pun perwakilan pemerintah daerah, baik gubernur maupun wakil gubernur, yang hadir menemui massa. Kondisi ini memicu kekecewaan dari para buruh dan mahasiswa yang merasa aspirasi mereka belum mendapatkan perhatian serius.

Aksi ini menjadi cerminan bahwa persoalan ketenagakerjaan dan pendidikan di Sumatera Barat masih membutuhkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Tanpa adanya tindak lanjut yang konkret, kekhawatiran akan terus meningkatnya ketimpangan dan kerentanan sosial di masyarakat bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama