RASA 07

Tema “Kembali Fitri”

 

PUISI

Puasa Terakhir

Karya : Zerly Affi Walti

 

29/30 hari menjalankan puasa

Menahan lapar dan dahaga

Tebarkan senyum dengan suka cita

Terasa bahagia, tiada tara

 

29/30 tidak ada apa-apa

Bila tidak diisi dengan kebaikan mulia

Lebaran telah tiba

Silaturahmi bersama sanak saudara


 

QUOTES

“Beberapa kata pernah membuat luka, lisan serta sikap yang tidak terjaga, dan hati yang sering salah prasangka. Jika Idul Fitri adalah lentera, maka izinkanlah membuka takbirnya dengan maaf karna tiada kesucian menjadi sempurna tatkala masih ada rasa kebencian yang tertanam dalam jiwa. Minal Aidzin Walfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin, dan akhir kata Selamat Idul Fitri untuk kita semua”

-Shinta Bella-

 

Idul fitri menyapa lagi, membawa diri menuju fitri. Diajarkan untuk memaafkan lalu diingatkan untuk selalu berbuat baik. Memang benar ternyata, hidup dalam limpahan fitri dan ikhlas sangatlah damai”

-Alfarel Huzri-

 


 

SENANDIKA

Samudera Ampunan-Nya

Karya : Fitri Dini Aulia Sari

Kegelapan masa lampau, dikala diri merasa berkuasa dan berani. Menindas siapa saja yang lemah, siapa saja yang tidak bisa membalas bahkan berkutik sedikitpun atas apa yang kuperbuat. Rendah dan hina kuakui itulah diri ini. Sang pencipta begitu pemurah telah memberi petunjuk kepadaku. Masalah demi masalah yang kulalui justru membawa petunjuk bagiku. Kusungkurkan tubuh ini, bersujud, menyesal, dan memohon curahan ampunan-Nya.

 

Suasana Baru

Karya : Zerly Affi Wati

Sumatera jadi tempat perantauan aku yang dari Jawa. Di pisahkan oleh pulau, dengan orang tua dan adik-adik disana. Tujuan menuntut ilmu dengan cita-cita yang mulia. Tidak bisa berjumpa, dalam waktu yang cukup lama, hanya bermodal video call bersama mereka. Ramadhan kali ini terasa berbeda, tanpa kehadiran mereka. Tapi aku masih bisa bersyukur, bertemu dengan mereka yang t'lah lama tak jumpa. Terima kasih. Semoga, aku masih bisa bertemu di Ramadhan berikutnya.

 


 

CERPEN

 

Titik Balik Kepribadian

Karya : Fitri Dini Aulia Sari

Orang-orang menilaiku anak yang ngga asik, tapi semua sudah menjadi perhitunganku sedari awal. Sejauh ingatanku, semua ini berawal di masa sekolah dasar dulu.

"Hai Senja, bagaimana hari ini, pelajaran di kelasmu aman?", begitulah cara kami saling memulai cerita sepulang sekolah.

"Semua cukup baik, tapi rasanya ingin sekali pergi berlibur, tapi entah kemana", ungkap Senja dengan lesu.

"Oh, kalau begitu ayok kita pergi berlibur bersama, ibuku mengajak ke pantai di akhir pekan. Engkau mau ikut tidak?", ajakku semangat.

"Wah, iyadeh, aku mau kalau tidak merepotkan", pungkasnya.

Haripun berlalu dan akhirnya akhir pekanpun tiba dan aku pergi ke pantai bersama Ibu. Betapa disayangkan, aku lupa untuk kembali mengajak Senja bermain di pantai. Sepanjang sore aku berbahagia bersama Ibu dan saat pulang barulah aku tersadar perihal Senja.

"Ya ampun, bukannya aku mengajak Senja. Aduuh, bagaimana ini.", ucapku penuh resah.

Sesampainya di rumah, Ayah langsung menyampaikan kabar kepadaku.

"Senja temanmu itu sore tadi kesini, Nak. Dia tidak berkata ada urusan apapun, tetapi tampaknya dia berpakaian rapi daripada biasanya. Dia menanyakanmu dan langsung pulang setelah itu", ungkap Ayah padaku.

"Baik Ayah, aku akan menemuinya besok di sekolah", tutupku.

Keesokannya, aku menemui Senja untuk meminta maaf. Belum satupun kata terlontar dari bibirku, Senja langsung membuatku terdiam seribu bahasa.

"Ooh begini sifat engkau Mentari, aku kira kita bisa berteman sampai kapanpun, ternyata aku tidak bisa lagi mempercayaimu", Senja berlalu dan tidak pernah lagi menyapaku.

Perjalanan ini menguak arti penting kepercayaan bagiku, tak akan kuulangi lagi kesalahan-kesalahan yang memutus suatu hubungan antara aku dengan entah siapapun nantinya. Cukup ini menjadi satu-satunya persahabatan yang kuhancurkan dan jikalau bisa, ku ingin engkau kembali bersamaku teman, maafkan aku.

Sekarang aku tidak peduli meski hanya memiliki sedikit teman, tetapi dengan sekuat yang kumampu akan selalu aku jaga kepercayaan mereka kepadaku. Ajakan untuk memutus hubungan terhadap sahabatku, tak akan mampu mempengaruhiku, barang dengan kemewahan sekalipun.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama