MADING 19

 

TEMA: PERGERAKAN

 

·      POJOK QUOTES

 Apabila kau mulai bergerak, maka dimulailah kau mengenal apa arti perjuangan.

Bukan hanya angan-angan, namun implementasi yang dibutuhkan.

Adisty Fadhilah Pohan

Bergerak bukan hanya sekadar turun ke lapangan, namun menjadi harapan bagi mereka

yang percaya bahwa kau dapat mewakilkan untuk menebar energi positif.

Adisty Fadhilah Pohan

 

·      POJOK INFO

 Pergerakan Pemuda pada Masa Kini

Indonesia memperingati tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda yang menjadi simbol semangat dan pergerakan kaum muda bangsa. Menurut Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Deputi Pengembangan Kemenpora RI, Imam Gunawan, semangat pemuda Indonesia tak pernah padam. Hanya saja, kata Imam, cara dan alatnya mengalami perubahan.

Pada masa lalu, pemuda menggunakan organisasi dan mengangkat senjata sebagai bentuk dari perjuangan dan pergerakan mereka. "Algemeene Studie Club (ASC) yang didirikan Bung Karno atau Perhimpunan Indonesia yang pernah dipimpin Bung Hatta adalah contoh alat perjuangan pemuda masa lalu," kata Imam. "Mereka memanfaatkan aneka organisasi untuk memantapkan perjuangan

 Sementara itu, pada masa kini, pemuda tak hanya menggunakan organisasi sebagai alat, tetapi juga teknologi. Kemajuan teknologi membuat diskusi atau komunikasi bisa dilakukan melalui berbagai jenis gawai tanpa perlu bertatap muka secara langsung. Bahkan, Imam menyebut bahwa ponsel bisa saja dikategorikan sebagai salah satu "senjata" bagi pemuda zaman sekarang. Dengan ponsel, seseorang bisa membuat pergerakan atau mengajak orang-orang berdonasi untuk berbagai keperluan. "Di sisi teknologi informasinya, sangat banyak sekali yang bisa dimanfaatkan berkaitan dengan kapasitas dan wawasannya," ujar Imam.

 

Sumber :

https://bola.kompas.com/read/2019/10/28/03402978/bentuk-perjuangan-baru-kepemudaan-indonesia-masa-kini?page=all

Husnaa Haniifah Wizi

 

·      POJOK TIPS

 Tips Mengatasi Rasa Mager

1.    Lakukan tidur yang cukup dan jangan begadang

2.    Olahraga secara rutin

3.    Jangan overthinking

4.    tetapkan jadwal waktu/deadline terhadap diri sendiri

5.    Cari teman yang produktif

6.    Hadiahi diri sendiri ketika kamu tidak mager

7.    curhat kepada teman untuk mengatasi stres

 

Sumber:

https://cashbac.com/blog/apa-itu-mager-dan-cara-mengatasinya/

Luvita Aura Putri

 

·      POJOK SASTRA

 Benteng Pertahanan

Mengapa judulnya disebut ‘pertahanan’? Perihal diksi mungkin itu hanyalah kata yang sederhana. Toh, kata itu banyak dijumpai pada karya sastra adik kecil yang berlajar mengenai kewarganegaraan. Akan tetapi, bagi mahasiswa, ‘pertahanan’ menjadi visi sebagai kaum penggerak dan kaum intelektual. Bukan perkara siapa di atas siapa atau apa yang telah kau kontribusikan untuk negara, melainkan perkara siapa yang lebih rasional di atas manusia yang berkepentingan.

Pantas jika mahasiswa kerap dilihat turun ke jalan demi menyuarakan aspirasi masyarakat. Pun, mahasiswa sudah berteriak saja, masih ada oknum yang mengatakan bahwa mereka ditunggangi, hanya mengikuti tren, atau demo sebagai alasan bolos kuliah. Semestinya mereka tanyakan  ke diri sendiri, mahasiswa turun karena apa?

Di umur dan raga mahasiswa ini saya sadar bahwa hanya sedikit lulusan kampus yang berwawasan dan bijak dalam mengambil keputusan. Lalu lucunya, saya membayangkan apakah mereka yang sekarang turun ke jalan, saat sudah berjabatan akan melakukan hal yang sama dengan Bapak/Ibu yang terhormat dikursi pemerintah? Tidak ada jaminan. Sama sekali tidak.

Mahasiswa bukan hanya mereka yang beranjak dewasa karena keadaan, tetapi berjuang demi masa depan yang akan mereka dapatkan tidak sesulit hak yang telah mereka perjuangkan. Jikalau memang bukan mahasiswa, maka siapa lagi? Siapa lagi manusia intelektual yang ikhlas mata dan pernapasannya rusak akibat gas air mata? Yang saya tau, manusia intelektual zaman sekarang hanya dilihat berdasarkan jabatan, gaji, atau pakai jas dan sepatu apa kamu ke tempat kerja. “Ya walaupun pakai orang dalam, tidak apa-apa, asalkan kamu PNS ya, Nak. Jangan mau dibodoh-bodohi orang,” kata orangtuanya. Sayangnya, pembodohan justru berlaku disisinnya. Sungguh miris, tetapi itulah Indonesia.

Sekarang, apa boleh saya mempertanyakan eksistensi Indonesia? Nanti dibilang sok pintar. 

Tidak, saya tidak peduli.

Putri Aulia Azzahra

 

Ilusi Harmonisasi

Diam bukan berarti tak peduli

Melihat kejadian yang tak sesuai hati

Kepada rakyat kecil yang tak dikasihani

Di bawah kolong langit yang indah ini

 

Melawan ilusi harmonisasi

Yang berkedok mimbar demokrasi

Mendongengkan cerita basi

Seolah rakyat tak mengerti

 

Bebas dikata, namun kekang yang mendominasi

Ketidakadilan menari-nari di negeri halusinasi

Bergerak dibungkam, tak bergerak  kekerasan menghiasi

Lucu dirasa, namun itu yang terjadi

 

Pergerakan sebagai awal baik membangun negeri

Menumpas ketidakadilan bak maskot utama pada diri

Maju melawan kaum yang tak berperi

Melagukan nada-nada penyemangat hati

 

Bergerak tak selalu berarti memberontak

Diam seribu bahasa  tanpa gerakan tak baik

Sembuhlah demi kemajuan peradaban

Gabriella Tessalonika

 

·      POJOK HUMOR

 Cerita humor politik dari Uni-Soviet, yang memperbincangkan Gorbachev:

Suatu ketika ada dua orang pria yang tengah antri untuk membeli Vodka.  Berjam-jam mereka mengantri. Hingga salah satunya kesal, dan meninggalkan antrian, “Cukup! Saya sudah muak! Dimana-mana harus mengantri. Ini semua gara-gara Gorbachev dan Perestroikanya yang bodoh. Saya akan ke Kremlin, dan membunuhnya!”

Beberapa jam kemudian, pria itu kembali sambil tetap kesal dan berkata, “sialan, antrian disana lebih panjang daripada disini” (Zlobin, 1996: 223).

Dea Ayu Putri

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama